Tak hanya riuh oleh para tokoh parpol, rumah Mega juga “dijaga” oleh para awak media yang ingin mengetahui isi pertemuan para petinggi koalisi pendukung Jokowi itu. Melihat rasa penasaran media terhadap apa yang terjadi di rumah Mega, pejabat PDIP pun berkomentar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekilas pandang, pertemuan tersebut seperti konsolidasi partai-partai Koalisi Indonesia Hebat. Tak aneh, sebab Kapolri yang mereka dukung, Budi Gunawan, mendapat penolakan hebat dari publik. Para relawan Jokowi bahkan ikut memprotes dan meminta KPK segera mengusut tuntas kasus rekening gendut Budi. (Baca Relawan Dua Jari Ultimatum Jokowi: Batalkan Budi Gunawan)
Meski demikian, akhirnya Hasto membenarkan bahwa soal Budi Gunawan juga disinggung dalam percakapan Mega, Paloh, Muhaimin, dan Wiranto. Menurut Hasto, mereka semua solid mendukung pilihan Jokowi yang telah mencalonkan Budi Gunawan.
Soal Kapolri bukan satu-satunya yang diperbincangkan. Petinggi Koalisi Indonesia Hebat itu juga berembuk soal nama-nama yang dianggap layak untuk ditempatkan pada Dewan Pertimbangan Presiden. Rupanya KIH kini hendak semakin aktif bergerak di lingkungan Istana.
“Ini (Dewan Pertimbangan Presiden) memang sepenuhnya hak prerogatif Presiden. Kami hanya mengumpulkan nama-nama yang masuk kategori negarawan,” ujar Hasto.
Ia menjamin tak ada nama Megawati, Paloh, Muhaimin, Wiranto, maupun petinggi PPP pro-KIH Romahurmuziy di daftar calon Dewan Pertimbangan Presiden. (Baca Refly Harun: Dewan Pertimbangan Presiden Harus Diisi 4 Hari Lagi)
Tak diragukan lagi, Koalisi Indonesia Hebat tak hendak melepas Jokowi bekerja “sendirian.” (agk)