DPRD menuding Pemprov DKI telah menyerahkan draft APBD 'palsu' kepada Kemendagri. Draft tersebut disebut palsu lantaran tidak membubuhkan tanda tangan pimpinan dewan.
"Saya sebagai Ketua DPRD merasa ditipu. Ibaratnya saya menyuruh eksekutif membeli rokok Djarum, ternyata yang dibeli adalah rokok Dji Sam Soe. Saya harus bertanggung jawab kepada 106 anggota DPRD," kata Ketua DPRD DKI Jakarta, Prasetyo Edi Marsudi di Gedung DPRD, Jakarta, Jumat (13/2) petang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pembahasan per komisi kok enggak ada dan anggaran dikirim gelondongan saja ke Mendagri tanpa sepengetahuan DPRD," ujar Prasetyo mempertanyakan.
"Saya ini bukan kacung eksekutif dan sebaliknya. Untuk APBD ini, ayo bersama-sama dibahas dan kenyataan yang ada sekarang, terang benderang di media. Mereka bilang saya penipu, yang tertipu itu saya," ujarnya.
Seperti diketahui, hingga hari ini APBD DKI 2015 belum juga disepakati oleh Kemendagri. Draft APBD yang dikirimkan oleh Pemprov dianggap kurang lengkap karena tidak mencantumkan tanda tangan pimpinan dewan.
Sementara Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok beralasan dengan sistem e-budgeting, draft anggaran sudah tidak perlu lagi dibubuhi tanda tangan basah. Menurut mantan Bupati Belitung Timur itu, setelah Kemendagri menyetujui draft APBD barulah eksekutif dan legislatif membubuhkan tandatangan.
"Dengan cara e-budgeting cukup soft copy. Jakarta jadi role model e-budgeting, kalau masih pakai yang lama, ya DKI menyalahi format," kata Ahok beberapa waktu lalu. (obs)