“Saya memang sudah puluhan tahun rutin tahajud, meminta kepada Gusti Maha Suci agar diberi jalan terbaik. Begitu terjadi ini (Golkar pecah), tahajud saya antara lain memohon kepada Tuhan diberi jalan keluar untuk Golkar,” kata Ceu Popong.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anggota DPR tertua periode 2014-2019 itu enggan membandingkan keabsahan kubu Agung dan Ical. Dia mengatakan tak bisa mengukur secara objektif soal itu karena bukan ahli hukum. Selain itu, Ceu Popong hanya menghadiri Musyawarah Nasional Golkar Bali, dan tak datang ke Munas Ancol kubu Agung.
Meski demikian, menurut dia, para peserta Munas Bali memang betul-betul pengurus Dewan Pimpinan Daerah Golkar yang asli. “Mereka resmi, para ketua, sekretaris, dan bendahara Golkar daerah. Ada mandatnya. Saya kenal mereka sudah puluhan tahun. Saya lihat sendiri, tidak pinjam mata dan telinga orang. Jadi, itu (Munas Bali) sah atau tidak?” ujar Ceu Popong melemparkan pertanyaan yang tak mau ia jawab sendiri.
Ia meminta semua pihak, terutama internal Golkar, untuk mengendalikan emosi supaya pikiran jernih dan menuggu keputusan hukum tetap atas dualisme kepengurusan Golkar dari pengadilan. Keputusan Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly yang telah mengesahkan kepengurusan Agung Laksono menurut Ceu Popong belum inkrah.
“Tunggu dulu sampai ada keputusan hukum, bukan keputusan menteri, sebab keputusan menteri bukan yudikatif. Garis yudikatif berbeda dengan garis eksekutif,” kata Ceu Popong.
Namun, tegas Ceu Popong, ia tak memihak kubu manapun. “Saya enggak ke kanan atau kiri. Saya lurus. Kalau yudikatif sudah beri putusan, siapapun pihak yang kalah harus menerima,” kata dia.
Saat ini ketegangan antara kubu Agung dan Ical kembali meningkat karena perebutan Sekretariat Fraksi Golkar. Baca selengkapnya di FOKUS: Dua Golkar Berebut Lantai 12 (agk)