Wakil Ketua Umum Demokrat Syarif Hasan menganggap dana sebesar itu akan sulit dimasukkan ke dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama karena saat ini kondisi perekonomian Indonesia memburuk.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk diketahui, pemerintah merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi 2016 dari 5,8-6,2 persen menjadi 5,5-6 persen, sementara Bank Indonesia mengoreksi proyeksi angka pertumbuhan ekonomi dari 5,4-5,8 persen hingga 5-5,4 persen.
Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro sempat menganggap pelemahan rupiah ialah akibat kondisi penguatan Dolar AS atau sering disebut dengan istilah ‘super dollar’. Pasalnya, banyak mata uang negara lain juga mengalami hal serupa.
Terkait nilai tukar, Bambang menyebut akan mengikuti asumsi BI yang memperkirakan nilai tukar rupiah tahun depan akan berada di kisaran 13.000-13.400 per Dolar AS. Itu sekaligus meralat asumsi kurs untuk tahun depan yang sebelumnya di kisaran Rp 12.800-13.200 per dolar AS.
Bambang juga menyatakan tak mudah memasukkan dana aspirasi Rp 11,2 triliun ke dalam APBN 2016. Apalagi pembahasan anggaran kini sudah melewati masa pembahasan di rancangan kerja pemerintah (RKP) sehingga tidak dimungkinkan masuk pos anggaran baru dalam APBN 2016. (Baca Menkeu: Dana Aspirasi Rp 11 Triliun Tak Sesuai Ketentuan) (agk)