Wakil Ketua Umum PBNU Slamet Effendy Yusuf menuturkan sering kali calon-calon presiden Amerika dari Partai Republik menerapkan hal-hal yang konservatif terhadap dunia Islam. “Kunjungan pimpinan DPR menemui Trump itu bisa merugikan karena umat Islam Indonesia yang terbesar di dunia,” ujar Slamet saat dihubungi CNN Indonesia, Sabtu malam (5/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kubu dari Partai Republik, ujar Slamet, terlihat begitu menonjol selalu berorientasi pada kemenangan kapitalisme yang kadang-kadang kurang populis. “Kesombongan dan hegemoni dari kubu Republik sangat terlihat selama ini,” ucapnya.
Namun begitu, Slamet menegaskan bahwa siapapun presiden Amerika selalu berorientasi pada tujuan dan kepentingannya sendiri. “Sama saja sebetulnya, baik dari kubu Republik maupun Demokrat. Hegemoni terhadap segala bidang dari mulai ekonomi sampai militer,” kata dia. “Itu kesombongan Amerika sebagai negara adi daya.” (Baca: Pertemuan Setya Novanto dan Trump Tak Untungkan Indonesia)
Slamet mencontohkan Presiden Amerika yang sekarang Barack Obama meskipun berasal dari Partai Demokrat juga sangat kentara dalam hegemoni di segala bidang termasuk menerapkan standar ganda bagi negara-negara berkembang dan dunia Islam.
Sependapat dengan Slamet, politikus partai Islam dari Partai Persatuan Pembangunan Arsul Sani memandang kubu Republik selama ini terlihat lebih “keras” terhadap dunia Islam dibandingkan Demokrat. (Baca: Setya Novanto Harus Jelaskan Pertemuanya dengan Trump di AS)
“Di Partai Republik itu ada ‘tea party’ yang merupakan faksi konservatif. Dalam sosial budaya juga sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai agama Kristen,” kata Arsul ketika dihubungi CNN Indonesia, Sabtu malam (5/9).
Dengan begitu, menurut Arsul, sikap orang-orang Partai Republik terhadap dunia Islam tampak jauh lebih keras dan tidak toleran. “Mereka tidak seperti kubu Demokrat yang tak dipengaruhi oleh nilai-nilai agama,” ujar anggota Dewan Perwakilan Rakyat ini. (obs)