“Tampak sekali MKD mengecilkan seorang Marsekal Muda TNI, seolah-olah tidak mengerti bagaimana memindahkan data (rekaman) dari handphone ke USB," ujar Ikrar di kawasan Senayan, Jakarta, Jumat (4/12).
Maroef, jauh sebelum menjabat Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, memang punya pengalaman karier panjang di dunia militer. Dia merupakan perwira tinggi TNI Angkatan Udara yang pernah memegang tongkat komando Skuadron 465 Korps Pasukan Khas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama persidangan kemarin, anggota MKD kerap bertanya soal ponsel Maroef yang dipakai untuk merekam percakapan dengan Ketua DPR Setya Novanto dan pengusaha minyak Riza Chalid.
Maroef membantah kecurigaan MKD. Menurutnya, hanya ada tiga orang yang dalam rekaman itu berbincang-bincang. Pembicaraan antara dia, Setya, dan Riza, menurut Maroef, berlangsung di Hotel Ritz-Carlton, Jakarta.
Soal orang keempat yang dipertanyakan MKD, Ikrar menganggapnya hanya untuk mengalihkan pembahasan yang substansial demi melindungi Setya Novanto.
Maroef mengatakan berinisiatif merekam pembicaraan dia dengan Setya dan Riza karena merasa tak nyaman dan curiga. Dia heran kenapa Setya membahas perpanjangan kontrak Freeport tidak bersama anggota Komisi Energi DPR, melainkan pengusaha.
Ponsel Maroef yang berisi rekaman asli percakapan itu kini berada di tangan penyidik Kejaksaan Agung. Maroef sendiri dini hari tadi –usai bersaksi 12 jam di MKD– telah diperiksa Kejaksaan Agung dalam kasus dugaan permufakatan jahat Setya itu.
[Gambas:Video CNN] (agk)