Jakarta, CNN Indonesia -- Warga Desa Sumber Makmur, Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, menangkap tim salah satu pasangan calon bupati dan wakil bupati peserta Pemilihan Kepala Daerah setempat yang diduga melakukan politik uang di wilayahnya.
"Warga menangkap tim pasangan calon (Paslon) pada Rabu dini hari," kata Komisioner Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kabupaten Mukomuko Deni Setiabudi di Mukomuko, Rabu (9/12).
Deni mengatakan, tim pasangan calon tersebut ditangkap saat sedang membagikan amplop yang berisi uang sebesar Rp 50.000 kepada sejumlah warga di wilayah itu. Tim pasangan calon, katanya, sempat dibawa warga di wilayah itu ke balai desa setempat untuk dimintai keterangan.
Selanjutnya, katanya, masalah ini tergantung dengan komisioner Panitia Pengawas Pemilu Kecamatan (Panwaslucam) Lubuk Pinang "Dia kaji dahulu kalau itu tidak politik uang cukup selesai di Panwascam, kalau ada pelanggaran kita lanjut," ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan, tim pasangan calon itu ditangkap saat sedang mengantar kartu nama disertai dengan amplop berisi uang Rp50.000.
Dari tangan tim itu, sebutnya, diamankan sebanyak 13 amplop dan 11 lembar kartu anggota sahabat salah satu pasangan calon.
Aparat kepolisian sektor Kecamatan Lubuk Pinang hadir di tempat kejadian peristiwa penangkapan tim pasangan calon tersebut.
Hari ini Pilkada serentak dilaksanakan di 246 ribu TPS yang tersebar pada 269 Kabupaten/Kota yang ada di 32 Provinsi. Berdasarkan data dari Komisi Pemilihan Umum, terdapat 100.461.890 warga negara Indonesia yang akan menyumbangkan suara di Pilkada Serentak 2015 ini.
Sebelumnya, seorang pemilih bernama Sri Handayani diketahui mencoblos dua kali di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Ia melakukan kecurangan tersebut di TPS 19 dan TPS 20 Desa Wringin Anom dalam Pemilihan Kepala Daerah Situbondo, Jawa Timur, hari ini.
Dari informasi yang dikumpulkan oleh kantor berita Antara, Sri Handayani yang seharusnya mencoblos di TPS 20, kemudian mencoblos kembali di TPS 19 menggunakan kartu undangan milik Sri Indayana. Masalah itu diketahui setelah Sri Indayana -sang pemilik sah suara- saatmendatangi TPS 19 dan disebutkan bahwa kartu suara miliknya sudah dicoblos oleh Sri Handayani.
Sri Handayani memegang undangan milik Sri Indayana diduga karena petugas tidak paham dengan kemiripan nama kedua perempuan itu.
Mendapati kasus itu, KPU bersama panwas, kepolisian dan para saksi pasangan calon mengadakan rapat dan diperoleh keputusan, pencoblosan terus dilanjutkan, namun untuk 139 surat suara yang sudah dicoblos dinyatakan akan dilakukan pemilihan ulang. Sementara sisa 87 surat suara yang dicoblos tetap dilanjutkan.
(antara/sip)