Pendeknya usia koalisi besutan Prabowo Subianto itu, kata Desmond, disebabkan oleh kepentingan politik yang selalu lebih diutamakan ketimbang upaya menyelaraskan ideologi partai. Sejak awal KMP dibangun, Desmond mengamini bentukan koalisi oponen pemerintah itu tidak solid.
"Paling lama koalisi seperti ini akan bertahan hingga umur tiga tahun. Tahun keempat, kepentingan sudah berubah," ujar Desmond.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Desmond: Usia KMP Paling Lama Tiga Tahun |
"Sekarang hampir setahun setengah satu persatu 'merotol', karena itu secara de facto KMP sudah bubar," ujar Muzani, kemarin.
Lihat juga:Gerindra: Koalisi Merah Putih Bubar |
"Karena pada tataran praktis kerja sama parpol sangat cair sehingga aspek KMP dan KIH sudah tidak relevan lagi," kata Eddy.
Tanpa menghitung PKS yang gamang, KMP dengan demikian hanya tinggal menyisakan Gerindra. Sebabnya, Partai Persatuan Pembangunan dan Golongan Karya (Golkar) sudah ikut menyebrang ke gerbong pemerintah.
PPP dan Golkar merupakan partai yang dirundung dualisme kepengurusan. Tapi kini dua partai itu setidaknya sudah satu suara dalam menunjukkan sikap dukungannya.
Meski sudah menyatakan diri sebagai partai pendukung pemerintah, Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie meyakini KMP belum bubar. Dia hanya percaya KMP bubar jika ada pernyataan langsung dari Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.
"Menurut saya tidak bubar, yang bilang siapa?" kata Ical, sapaan Aburizal.
Lihat juga:Ical Bantah KMP Bubar |
"Walaupun mereka bergabung ke pemerintah, tapi di sisi lain tidak meninggalkan KMP, sebetulnya konteksnya itu mereka tidak enak sama Prabowo," kata Syamsudin.
Di sisi lain, kata Syamsudin, dukungan yang disuarakan oleh partai-partai di KMP tidak berarti menambah kekuatan Koalisi Indonesia Hebat, yang belakangan mengubah nama menjadi Koalisi Partai-Partai Pendukung Pemerintah (KP4).
Sebabnya, kata Syamsudin, Presiden Jokowi membangun koalisi tidak dengan ikatan tertulis. Dalam arti lain dukungan partai politik terhadap pemerintah tidak menjamin bakal mendapat jatah bagian di kabinet.
"Jangan salah, biaya partai politik itu mahal sekali. Intinya mereka kini mencari cara bagaimana mendapat akses untuk mengotak-atik dana pemerintah, baik melalui APBN maupun APBD," kata Syamsudin.