Fahmi menyakini bahwa PDIP tidak bakal mengusung Ahok yang bukan merupakan kader partainya dan tak akan mengecewakan para kader PDIP. "Tidak ada itu. Percayalah, PDIP pilih cagub yang bisa membuat kader dan akar rumput jadi militan dan mau bangun pagi-pagi ke TPS. Dan bukan militansi 'teman-temanan' saja," kata Fahmi di Jakarta, Kamis (18/8), seperti dilansir dari Antara.
Fahmi mengingatkan partainya saat ini sedang membangun loyalitas, pendidikan politik, dan sekolah kader yang disiapkan menelurkan pemimpin-pemimpin daerah, bukan kemudian malah mengusung cagub Ahok.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"PDIP telah belajar banyak dari pengalaman pahit Gerindra tahun 2012. Bargain politik PDIP tinggi seyogyanya usung cagub sendiri," katanya. Ketika itu, Ahok yang merupakan kader Gerindra berduet dengan Joko Widodo yang diusung PDIP. Namun setelah berhasil memenangkan pilkada seiring perjalanan waktu Ahok memutuskan mundur dari Gerindra.
Ia mengatakan pemilih di Jakarta mayoritas etnis Jawa dan Sunda, rasionalnya cagub harus orang Jawa atau Sunda kalau PDIP ingin menang.
Fahmi mengaku mendapat info dari elite salah satu petinggi partai pendukung Ahok, jika PDIP berani mengusung kader partai sendiri maka akan salah satu partai yang mendukung Ahok ini akan berbalik membelot mendukung cagub PDIP dan meninggalkan Ahok. "Otomatis Ahok tidak bisa maju cagub, karena tidak cukup kursi," ujar politisi PDIP yang pernah beradu puisi dengan Fadli Zon dalam masa pilpres 2014 itu.
Fahmi mengakui sikap PDIP yang belum menentukan calon gubernur DKI dalam pilkada DKI mendatang menimbulkan banyak spekulasi dan perhitungan politik bagi partai-partai lain. Di kalangan internalpun menguat nama Ahok-Djarot yang disebut-sebut akan dideklarasikan dalam waktu dekat. (obs)