Hal ini dikatakan Gusti pada Selasa (28/10) dalam acara serah terima jabatan kepada Nasir yang kini menjabat sebagai Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek dan Dikti).
Menurut Gusti, anggaran penelitian di Indonesia selama ini hanya 0,9 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) atau sekitar Rp 10 triliun sudah termasuk gaji.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Penelitian harus terus dikembangkan agar terasa manfaatnya. Dana penelitian tidak sedikit dan mahal," lanjut Gusti.
Lihat juga: Penggabungan Ristek dan Dikti Dinilai Tepat |
Dosen Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, Institut Teknologi Bandung, Dimitri Mahayana, mengakui bahwa anggaran yang diterima Kementeristek selama ini sangat kecil. Untuk mengatasi masalah itu, Dimitri berpendapat kementerian harus melakukan penelitian yang bisa dirasakan manfaatnya kepada masyrakat.
“Jadi, penelitiannya jangan jauh-jauh ke langit, tapi harus benar-benar membumi dan bisa diimplementasikan,” tegas Dimitri saat dihubungi CNN Indonesia.
Ia menambahkan, dengan digabungnya bidang riset dan teknologi dengan pendidikan tinggi ini, pemerintah punya kesempatan menjadikan perguruan tinggi sebagai basis riset. Apalagi, selama ini perguruan tinggi termasuk lembaga yang paling sering melakukan penelitian.
Menanggapi saran-saran itu, Nasir berkata pihaknya akan tetap bekerja sesuai dengan anggaran yang ada namun diharapkan bisa memberi hasil maksimal. “Kita akan bekerja berdasarkan nilai dan hasil, bukan terpaku anggaran,” ujar Nasir.
Lihat juga: M. Nasir 'Lompat' dari Rektor ke Menteri |
Ia lahir di Ngawi, Jawa Timur, pada 27 Juni 1960. Ia mengantongi gelar doktor of Science di Penang, Malaysia, dan beberapa gelar sebelumnya dia dapatkan di Universitas Diponegoro dan Universitas Gadjah Mada.