MISI ANTARIKSA

Objek 2014-28E, Benarkah Ia Satelit Pembunuh?

Deddy S, CNN Indonesia | Kamis, 20/11/2014 14:10 WIB
Object 2014-28E diduga sebagai satelit Rusia yang mampu membunuh satelit lain. Apakah Rusia menghidupkan lagi misi pembunuhan satelit dari era Perang Dingin? Ilustrasi (CNN Indonesia/Reuters/NASA/Alexander Gerst)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebuah objek misterius mengorbit di ruang angkasa. Diduga itu adalah satelit buatan Rusia yang diluncurkan pada Mei ini dan diduga pula ia adalah semacam satelit pembunuh satelit di ruang angkasa.

Objek mencurigakan itu diberi nama Object 2014-28E dan diduga dibawa Rusia ketika meluncurkan tiga satelit militer pada Mei lalu. Rusia sendiri dikabarkan tak menyebutkan bahwa objek itu termasuk yang diluncurkan. Ada pula yang menduga objek itu hanyalah sampah ruang angkasa.

Tapi satelit pelacak, seperti dilansir Financial Times, mendapati sejumlah manuver menarik dari objek itu selama beberapa pekan terakhir.


Pada pekan lalu, sebagai contoh, 2014-28E objek itu mendekati sisa-sisa roket yang membawa satelit Rusia menjangkau orbit. Akibatnya, sejumlah analis ruang angkasa khawatir, ia adalah semacam program antisatelit.

Diduga, objek itu mirip dengan program Istrebitel Sputnikov alias pembunuh satelit, seperti yang pernah terjadi pada Perang Dingin. Program ini dihentikan ketika Uni Soviet runtuh di awal 1990-an.

Sudah lama kalangan militer menilai bahwa kemampuan untuk menghancurkan atau mematikan satelit negara lain adalah kemampuan yang membahayakan keamanan negara. Uni Soviet adalah salah satu yang mampu melakukan itu.

Tapi tak hanya Soviet. Tiongkok pun ternyata punya teknologi tersebut. Tiongkok meledakkan salah satu satelit cuacanya pada 2007 yang menyebabkan banyak sampah di orbit. Amerika pun pernah menghancurkan satelitnya yang sudah mati.

Kekuatiran terhadap Object 2014-28E dinilai wajar. Joan Johnson-Freese, guru besar urusan keamanan nasional di U.S. Naval War College di Newport, Rhode Island, mengatakan Rusia bisa jadi punya banyak tujuan dengan mengetes 2014-28E.

Tapi dia minta tak buru-buru menarik kesimpulan supaya tak tersesat. “Satelit yang mampu bermanuver berpotensi jadi senjata,” kata Johnson-Freese kepada Space.com. “Tapi tak berarti bahwa satelit yang bisa bermanuver adalah senjata.”

Soalnya, Amerika Serikat pun, kata Johnson-Freese, sudah mengembangkan satelit yang bisa bermanuver.

Sebagai contoh adalah Experimental Satellite System-11 (XSS-11) dari Angkatan Udara AS, dan kapal DART (Demonstration for Autonomous Rendezvous Technology), buatan NASA. Keduanya diluncurkan pada 2005.

“Ketika kita membuat DART dan XSS-11, negara lain juga panik,” tutur Johnson-Freese.

REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK