Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika, Muhammad Budi Setiawan mengatakan, jaringan 4G LTE memang memberikan kecepatan internet yang kencang. Akan tetapi, sebanyak 70 persen pengguna layanan seluler di Indonesia masih menggunakan jaringan 2G, dan 30 persen memakai di 3G.
Oleh karena itu, sebelum menggelar 4G LTE, operator telekomunikasi diminta untuk memberikan rencana bisnis layanan 4G LTE.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Budi melanjutkan, dari sisi pemerintah sebenarnya menginginkan teknologi 2G dihilangkan. Namun, faktanya masih banyak pelanggan yang memakai 2G.
Satu menara BTS jaringan 2G, misalnya, hanya dapat melayani 100 pelanggan. Dengan menara 4G LTE, radio di BTS tersebut dapat melayani pelanggan yang jumlahnya 10 kali lebih banyak.
Ia menyadari, bahwa spektrum yang ideal untuk 4G LTE adalah 1.800 MHz namun masih banyak perdebatan di antara operator telekomunikasi soal spektrum tersebut. Telkomsel dan XL Axiata, meminta agar pemerintah melakukan tata ulang agar blok frekuensi ditempatkan secara berdampingan untuk memberi layanan yang optimal.
Budi mengatakan, aksi nyata penataan ulang ini bergantung pada keseriusan operator yang memiliki sumber daya di spektrum tersebut. "Sejak enam bulan lalu kami sudah meminta mereka untuk membuat proposal bersama terkait penataan ulang, tapi sampai sekarang belum ada," ucap Budi.
Di bulan Desember nanti, Kemenkominfo berencana mengeluarkan Peraturan Menteri (PM) yang menyatakan bahwa spektrum 1.800 MHz bisa digunakan untuk teknologi netral. Teknologi netral memungkinkan operator telekomunikasi menggelar dua atau lebih teknologi jaringan dalam satu rentang spektrum yang dimiliki operator telekomunikasi, misalnya 2G dan 4G bisa berjalan bersama di 1.800 MHz.