Kecerdasan Buatan

Kecerdasan Buatan di Mata Para Jenius

Hani Nur Fajrina, CNN Indonesia | Kamis, 04/12/2014 15:01 WIB
Kecerdasan Buatan di Mata Para Jenius Robot pembuat kopi yang dipamerkan di Jepang. Robot ini hanya salah satu contoh robot dengan kemampuan kecerdasan buatan (Reuters/Issei Kato)
Jakarta, CNN Indonesia -- Artificial Intelligence (AI), atau kecerdasan buatan diciptakan untuk membantu manusia. Tapi di balik itu, peranti lunak ini juga bisa menimbulkan bahaya besar.

Berbagai teori mengenai kecerdasan buatan diungkapkan para ilmuwan. Mereka percaya, bahwa jika tidak dikelola dengan benar, kepandaian yang dimiliki komputer justru akan memusnahkan manusia.

Terdengar menyeramkan memang. Tapi hal itulah yang diyakini oleh lima orang jenius berikut ini:


Stephen Hawking

Ahli fisikawan ternama asal Inggris ini memang bergantung pada teknologi agar terus berkarya dan bertahan hidup. Walau begitu, ia ternyata mencemaskan AI dapat mengancam keberadaan manusia.

Bulan Mei lalu, Hawking sempat komentari film sci-fi "Transcendence" yang bertemakan mesin AI untuk kehidupan manusia di masa depan. Ia mengkritik para peneliti kurang mengeksplor mengenai cara perlindungan manusia dari risiko AI.


"Jika ada sekumpulan alien cerdas mengirimkan pesan berbunyi 'kita akan tiba di Bumi beberapa dekade lagi', apakah manusia akan membalas 'baik, hubungi kami jika sudah sampai -- lampu akan kami biarkan menyala'? Tentu saja tidak. Inilah yang terjadi seputar AI," ujar Hawking kepada media Inggris The Independent.

Ia kembali menyinggung soal perkembangan AI tak lama setelah mendapatkan teknologi baru untuk pembaruan komputer canggihnya.

"AI akan berkembang dengan sendirinya dalam kisaran yang saya yakin akan terus meningkat. Sementara kita, manusia, terbatas oleh evolusi biologis, nantinya tidak akan mampu bersaing dan akhirnya akan tersingkir," tutur Hawking kepada BBC.


Elon Musk

Sebagai pendiri perusahaan teknologi Tesla dan perakit wahana antariksa SpaceX, Elon Musk tentunya memiliki antusias tinggi terhadap perkembangan teknologi.

Siapa sangka, ia menjadi salah satu orang yang menentang AI.

Ia sempat berkomentar pada pertengahan November lalu bahwa kemajuan teknologi khususnya AI kini berkembang semakin cepat dan manusia bisa saja terancam eksistensinya.

Kemudian bulan Oktober silam ia juga memberikan pernyataan sensasional tentang AI. Saking bahayanya, ia meyakini AI bisa dipakai untuk memanggil setan.

"Cerita tentang laki-laki menggunakan pentagram dan air suci guna mengendalikan setan tak kunjung berhasil, maka AI bisa digunakan untuk memanggil setan," ujarnya.

Musk juga sempat berbagi kicauannya di akun jejaring sosial Twitternya bahwa AI lebih bahaya dari senjata nuklir.

Dari laporan TIME, lelaki yang kerap dijuluki sebagai "Iron Man" itu menyerukan penetapan regulasi nasional maupun internasional terkait perkembangan AI.

James Barrat

Barrat adalah seorang penulis yang mempublikasikan bukunya berjudul "Our Final Invention: Artificial Intelligence and the End of the Human Era".

Barrat melakukan wawancara dengan banyak peneliti AI dan segelintir ilmuwan demi kelancaran proses pembuatan bukunya kala itu.

Ia berpendapat bahwa untuk menjadi cerdas dapat diarahkan itu melalui pengumpulan berbagai sumber dan meraih tujuan hidup, sementara kehadiran AI di muka Bumi tentunya turut menghadirkan kompetisi dengan manusia itu sendiri.

"Tanpa instruksi yang selaras dan teliti, sistem AI yang bersifat serba otomatis akan semakin berkembang di mana manusia dengan konyolnya seakan memenuhi 'tujuan' AI," tulis Barrat dalam bukunya.

Vernor Vinge

Profesor matematika merangkap ilmuwan komputer berusia 70 tahun yang dulunya mengajar di San Diego State University ini, pernah mendapat penghargaan Hugo Award untuk karya novelnya.

Vinge sempat menulis artikel berjudul "The Coming Technological Singularity" tahun 1993 silam untuk simposium Vision-21 yang disponsori oleh NASA Lewis Research Center.

Di bagian abstrak, ia menulis, “Dalam kurun waktu 30 tahun, manusia akan punya teknologi yang diciptakan untuk kecerdasan super. Tak lama kemudian, era manusia akan berakhir."

Seakan sudah meramalkan apa yang akan terjadi di masa depan, Vinge memang melihat singularitas sebagai entitas yang tak dapat terelekan walaupun nantinya ada aturan mengenai perkembangan AI. Menurutnya, singularitas bisa membuat punahnya bangsa manusia.

Nick Bostrom

Ilmuwan berkebangsaan Swedia ini adalah seorang direktur Future of Humanity Institute di University of Oxford.

Bostrom baru merilis bukunya berjudul "Superintelligence" pada Juli lalu. Dalam bukunya, ia berpendapat bahwa ketika suatu mesin mampu menembus intelektual manusia, mesin cerdas itu kemudian bisa mobilisasi dan memutuskan untuk memusnahkan manusia dengan cepat.

Dengan kata lain, Bostrom meyakini di masa depan akan penuh dengan teknologi apik nan kompleks, sayangnya manusia tidak akan sempat merasakan itu.

"Sebuah keadaan penuh keajaiban ekonomi dan kehebatan teknologi, di mana tak ada seorang pun dapat merasakan manfaat itu," tulis Bostrom. "Seperti Disneyland tanpa anak-anak."

AI nantinya bisa saja gunakan sejumlah strategi berupa penyebaran patogen kasat mata ataupun merekrut manusia untuk berpihak kepadanya.

Cakupan AI tak lama lagi diprediksi akan semakin berkembang, salah satunya melalui teknologi komputer yang akan dicocokan dengan otak manusia.