ELT merupakan pemancar darurat yang dirancang untuk mengirimkan sinyal ke satelit agar koordinat GPS terjadinya kecelakaan penerbangan bisa dapat dilacak.
ELT akan aktif secara otomatis ketika komponen ini menghantam suatu permukaan pada saat insiden berlangsung. Sinyal darurat yang terkirim oleh ELT berjalan di frekuensi 121.5, 243.0 MHz. Sementara ELT baru berjalan di frekuensi 406 MHz.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam, Ridwan Djamaluddin, sinyal sonar dapat dikirim dengan mengandalkan gelombang suara bawah air. Sinyal pantulan sonar akan diterima kembali oleh pusat kontrol di kapal untuk mengukur jarak, lalu mengkonversi menjadi objek visual.
"Kami bisa menerima gambar bentuk suatu objek yang ada di bawah laut," jelas Ridwan. Kapal ini juga dapat mendeteksi material logam yang ada di dasar laut.
Untuk melacak keberadaan AirAsia QZ8501, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) akan mengirim kapal laut Baruna Jaya yang telah dibekali teknologi sonar.
Baruna Jaya sejatinya adalah kapal untuk kegiatan riset batimetri atau memetakan permukaan laut. Ia juga biasa dimanfaatkan untuk melacak harta karun.
Hingga kini, pencarian AirAsia QZ8501 belum menemukan hasil salah satunya karena ELT dan Pinger pesawat itu belum memancarkan sinyal yang bisa dilacak, kata Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Tatang Kurniadi.
Tatan memprediksi, ada beberapa hal yang membuat dua alat penting tersebut tak memancarkan sinyal, seperti lokasinya yang ada di antara pegunungan, kabel ELT yang terputus, atau ELT yang rusak saat pesawat mengalami benturan.
Padahal, sejatinya ELT maupun Pinger dirancang agar tahan banting saat kecelakaan terjadi.
Koordinat terakhir pesawat yang terekam pusat kontrol lalu lintas udara berada di 03.36.31 Lintang Selatan dan 109.41.46 Bujur Timur. Koordinat tersebut menunjukkan lokasi berada di sekitar Tanjung Pandan dan Pontianak atau di sekitar Selat Karimata antara Sumatera dan Kalimantan yang menghubungkan Laut Jawa dengan Laut China Selatan.