Xiaomi memang terlibat perseteruan dengan perusahaan asal Swedia itu terkait masalah hak paten yang dianggap tak dibayar secara layak. Pada akhirnya, Xiaomi sempat diberi kesempatan untuk mengekspor produknya ke India hingga 8 Januari 2015 silam.
Pengadilan setempat memang membatasi penjualan ponsel Xiaomi yang berbasis Qualcomm sampai 5 Februari 2015. Tapi belum selesai masa perintahnya, Ericsson menggugat kembali terkait penjualan di online.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penjualan Xiaomi di sejumlah situs tak semuanya terhubung dengan kami. Xiaomi tak memiliki kuasa atas ponsel yang dijual oleh pihak ketiga," kata pengacara Xiaomi, Ajit Warrier kepada media lokal.
Pengadilan Tinggi India belum memutuskan kapan perseteruan antara Xiaomi dengan Ericsson akan berakhir. Sebelumnya, Xiaomi boleh menjual ponsel hingga 8 Januari 2015 dengan membayar US$ 1,5 kepada Ericsson tiap ponsel yang terjual.
Sementara ponsel Xiaomi yang berbasis prosesor selain Qualcomm, seperti MediaTek masih bebas beredar di India.
Bagi Xiaomi, negeri Bollywood ini merupakan salah satu pasar yang sangat penting. Hingga Oktober 2014, Xiaomi mengklaim bahwa pihaknya telah berhasil menjual hingga 500 ribu unit ponsel sejak awal memasuki pasar India pada Juli 2014 lalu. (ded/ded)