Hujan Jakarta Diduga karena Seruak Dingin Siberia

Aditya Panji, CNN Indonesia | Selasa, 10/02/2015 07:31 WIB
Hujan Jakarta Diduga karena Seruak Dingin Siberia Pejalan kaki mengenakan jas hujan di kawasan Gunung Sahari, Jakarta Pusat, Senin (9/2). (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hujan lebat dengan intensitas dan durasi yang tinggi kembali terjadi di DKI Jakarta dan sekitarnya, Selasa (10/2). Peneliti meteorologi tropis dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Tri Handoko Seto menduga penyebab hujan Jakarta adalah seruak dingin dari Siberia.

“Terjadi peristiwa meteorologis yang disebut dengan cold surge (seruak dingin), yaitu masuknya massa udara dingin dari Siberia menuju Jawa bagian barat,” kata Seto yang menjabat Kepala Bidang Pengkajian dan Penerapan Teknologi Pembuatan Hujan, UPT Hujan Buatan BPPT.

Seruak dingin yang masuk ke wilayah barat Jawa bertemu dengan angin yang bertiup dari timur lalu terjadi konvergensi, sehingga terbentuk awan-awan hujan yang cukup masif.


Seto memprediksi hujan yang melanda DKI Jakarta sejak Minggu (8/2) masih akan terjadi hari ini. Ia menyarankan pemerintah melakukan teknologi modifikasi cuaca sebagai upaya redistribusi curah hujan agar mengurangi potensi banjir di Jakarta dan sekitarnya.

Menurut Seto, teknologi modifikasi cuaca diperlukan karena kemampuan daya dukung permukaan Jakarta dan sekitarnya masih jauh lebih kecil daripada potensi hujan yang mungkin terjadi. "Sebaiknya segera dilakukan dalam beberapa hari ke depan. Namun karena belum ada perintah resmi, teknologi modifikasi cuaca urung terlaksana," kata dia.

Sebelumnya terkait banjir di Jakarta akibat hujan deras yang tak kunjung berhenti, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan pola banjir di Jakarta memang berubah drastis dari lima tahun sekali menjadi setahun sekali.

“Beban Jakarta makin berat. Dari tahun ke tahun, banjir Jakarta makin besar dan meningkat. Dulu 3-5 tahunan, sekarang setiap tahun. Padahal curah hujan relatif tetap,” kata Sutopo.

Ada banyak faktor yang menyebabkan perubahan pola banjir Jakarta tersebut, yakni persoalan tata ruang dan penggunaan lahan yang tak sesuai fungsinya. “Pembangunan yang ekspansif tak diikuti kaidah konservasi tata air mengakibatkan beban lingkungan meningkat. Jakarta tak mampu menampung aliran permukaan air,” ujar Sutopo.

Selain itu, drainase kota Jakarta pun dinilai buruk. BNPB menilai kemampuan drainase Jakarta tak memadai untuk menampung curah hujan. Hal ini bakal lebih buruk bila sungai-sungai di Jakarta meluap seperti tahun 2013.

“Saat ini sungai masih normal, namun aspek drainase amat buruk,” kata Sutopo. Bila nantinya sungai pun sampai meluap, maka bahaya lebih besar menghadang Jakarta.

Saat ini BNPB telah siaga dan siap membantu Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Personel BNPB diturunkan ke lokasi-lokasi banjir. BNPB juga mendirikan 28 titik posko komando taktis dengan rincian 25 tersebar di Jakarta, 2 di Bekasi, dan 1 di Tangerang. (adt/agk)