Deputy CEO PT XL Axiata, Dian Siswarini, mengatakan bahwa dibandingkan dengan jaringan 2G, SMS dan telephone, eksistensi koneksi 3G diantara pelanggan masih akan panjang.
"Setelah 10 tahun tersedia di Indonesia, penetrasi jaringan 3G sangat lambat yaitu sekitar 30 persen karena peralihan dari 2G dinilai tak mudah," ujar Dian memberikan alasan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belajar dari pengalaman sebelumnya, bahwa jaringan 4G LTE terbilang sulit. Banyak yang harus dilalui, seperti persiapan perizinan hingga perubahan IP jaringan untuk LTE sendiri.
Ia menilai, dari faktor itulah yang membuat penetrasi 3G tidak semudah membalikkan telapak tangan.
"Maka kita harus berkaca dari situ. Dari sisi konsumsi perangkat mobile, penetrasi jaringan LTE harus berangkat dari bagaimana terciptanya device harga terjangkau dan betulan bisa dijual di pasaran," lanjut Dian.
Ia menuturkan, tahun 2015 akan diberlakukan transformasi jaringan di sejumlah kota-kota besar, yaitu dengan merancang ulang komponen yang mampu mengoptimalkan koneksi internet agar layanan data semakin gencar.
Kendati sulit, Dian optimis 4G LTE bisa merambah dengan lebih cepat ketimbang pada saat perkenalan jaringan 3G. Indonesia sebagai negara ke-111 yang menerapkan jaringan 4G LTE, memang dianggap susah menyesuaikan dari jaringan 2G ke 3G karena banyak data yang berubah.
"Ya, pastinya bakal lebih gampang karena perubahan signifikan hanya terletak pada speed (kecepatan)," tegas wanita ramah ini.
(tyo/adt)