Di Saturnus, badai petir yang besar lengkap dengan kilat dan angin kencang bisa menyelimuti area planet ini seluas Bumi. Bahkan, badai Saturnus bisa bertahan hingga berbulan-bulan. Jauh lebih parah dari badai terburuk yang ada di Bumi.
Hal inilah yang kemudian membuat para peneliti dari dari California Institute of Technology penasaran, mereka coba mencari apa penyebat badai yang maha dahsyat itu.
Lihat juga:Misteri Lahirnya Bulan Terpecahkan |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para peneliti berpendapat, komposisi atmosfer Saturnus yang kebanyakan hidrogen dan helium adalah yang membuat badai di sana jarang terjadi.
Udara yang hangat dan rintikan air yang jatuh dianggap berpotensi memunculkan badai, namun beratnya air dibanding elemen apapun yang ada di atmosfer Saturnus dinilai sebagai penghambat.
Di Saturnus, molekul air padat hanya berdiam di atmosfer, memanaskan diri, namun tetap tidak cukup untuk menciptakan molekul yang lebih ringan. Badai baru bisa terjadi jika atmosfer bagian atas dingin terlebih dahulu.
"Atmosfer bagian atas sangat dingin dan besar, namun membutuhkan waktu 20 hingga 30 tahun untuk bisa dingin sekaligus memicu terjadinya badai," tulis salah satu anggota peneliti, Andrew Ingersoll.
Pada Maret lalu, berhasil terungkap pula bahwa hari di planet bercincin ini lebih singkat dari Bumi.
Untuk menentukan tingkat rotasi, Cassini mengukur seberapa banyak planet menarik orbit Cassini, serta memantau seberapa banyak Saturnus menggebung dan merata di sekitar khatulistiwa pada saat berputar. Terungkap, Saturnus menyelesaikan satu rotasi penuh selama 10 jam, 32 menit, dan 45 detik.
(eno)