Badai di Bumi Hanya 'Seujung Kuku' Badai Saturnus

Hani Nur Fajrina, CNN Indonesia | Senin, 20/04/2015 11:30 WIB
Badai di Bumi Hanya 'Seujung Kuku' Badai Saturnus Ilustrasi (Mihai Simonia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badai di Bumi mampu menyapu kota beserta isi-isinya dengan segala kerusakan dan dampaknya bisa memakan waktu berhari-hari. Siapa sangka, badai yang terjadi di Saturnus bisa lebih parah dari Bumi.

Di Saturnus, badai petir yang besar lengkap dengan kilat dan angin kencang bisa menyelimuti area planet ini seluas Bumi. Bahkan, badai Saturnus bisa bertahan hingga berbulan-bulan. Jauh lebih parah dari badai terburuk yang ada di Bumi.

Hal inilah yang kemudian membuat para peneliti dari dari California Institute of Technology penasaran, mereka coba mencari apa penyebat badai yang maha dahsyat itu.
Dalam studi baru yang dipublikasikan di jurnal Nature Geoscience, mereke menemukan bahwa badai ini terbentuk akibat pemindahan gas panas dari air di dalam atmosfer Saturnus.


Pemindahan gas panas juga sebetulnya berperan dalam terciptanya badai Bumi.

Badai petir berkembang ketika udara hangat dan lembab timbul lalu mendinginkan atmosfer atas, lengkap dengan air yang sudah menjadi embun lalu turun menjadi hujan.

Di Bumi, sekitar 16 juta badai petir terjadi setiap tahun. Sementara di Saturnus tidak terjadi sesering Bumi, hanya sekitar enam badai yang diamati selama 140 tahun terakhir. Bedanya, sekali kejadian, badai tersebut maha dahsyat.

Para peneliti berpendapat, komposisi atmosfer Saturnus yang kebanyakan hidrogen dan helium adalah yang membuat badai di sana jarang terjadi.

Udara yang hangat dan rintikan air yang jatuh dianggap berpotensi memunculkan badai, namun beratnya air dibanding elemen apapun yang ada di atmosfer Saturnus dinilai sebagai penghambat.

Di Saturnus, molekul air padat hanya berdiam di atmosfer, memanaskan diri, namun tetap tidak cukup untuk menciptakan molekul yang lebih ringan. Badai baru bisa terjadi jika atmosfer bagian atas dingin terlebih dahulu.

"Atmosfer bagian atas sangat dingin dan besar, namun membutuhkan waktu 20 hingga 30 tahun untuk bisa dingin sekaligus memicu terjadinya badai," tulis salah satu anggota peneliti, Andrew Ingersoll.

Pada Maret lalu, berhasil terungkap pula bahwa hari di planet bercincin ini lebih singkat dari Bumi.
Penelitian yang dipimpin oleh Ravit Helled dari Tel Aviv University menggunakan metode pengukuran medan gravitasi Saturnus yang dilakukan oleh Cassini, pesawat antariksa di bawah naungan NASA, ESA, dan badan antariksa Italia, ASI, yang telah diluncurkan sejak 1997 silam.

Untuk menentukan tingkat rotasi, Cassini mengukur seberapa banyak planet menarik orbit Cassini, serta memantau seberapa banyak Saturnus menggebung dan merata di sekitar khatulistiwa pada saat berputar. Terungkap, Saturnus menyelesaikan satu rotasi penuh selama 10 jam, 32 menit, dan 45 detik.


(eno)


BACA JUGA