Melalui pengacaranya, Roberts mengatakan minatnya itu bertujuan "meningkatkan keamanan pesawat." Ia meretas sistem perangkat hiburan Panasonic Corp dan Thales SA.
Aksi Roberts ini membawa masalah yang lebih luas, bahwa peretas berada jauh di depan standar keamanan komputer dan jaringan pada industri penerbangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini akan mendorong perubahan. Ini akan memaksa organisasi industri penerbangan untuk bergerak," kata Jonathan Butts, mantan peneliti Angkatan Udara Amerika Serikat, yang fokus pada masalah keamanan penerbangan, seperti dikutip dari Reuters, Senin (25/5).
Gazit menilai peretasan awal ini mungkin terdengar sepele, tetapi sebagai pakar keamanan siber, ia melihat ada potensi para penjahat mengeksploitasi celah keamanan dan serangan berevolusi menjadi pelanggaran yang lebih serius.
Kasus Roberts dan peretasan pesawat lain sudah mengkhawatirkan beberapa maskapai penerbangan, kata Ralf Cabos, spesialis keamanan siber yang berbasis di Singapura. Terlebih jika nanti koneksi Wi-Fi di dalam pesawat sudah tren, ia khawatir para peretas mampu meraih akses kontrol pesawat.
Produsen pesawat Airbus dari Eropa mengatakan, pesawat seharusnya dirancang untuk melindungi segala jenis hubungan komunikasi termasuk sistem hiburan dalam pesawat, baik itu koneksi Wi-Fi atau perangkat berlayar untuk memutar video dan audio. (adt/eno)