Di mata praktisi teknologi informasi, konsep Kota Pintar ternyata bukan sekadar makin meluasnya penggunaan perangkat teknologi atau ada akses Internet di mana-mana.
Achmad S. Sofwan, Managing Director Fujitsu Indonesia, mengatakan konsep Kota Pintar adalah mengintegrasikan berbagai sistem pelayanan masyarakat dan mengkoordinasikan instansi yang berhubungan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Semisal ada pasien yang harus dilarikan ke rumah sakit dengan segera. Melalui integrasi sistem itu dengan pelayanan kesehatan akan memungkinkan ambulans mencari jalur tercepat menuju rumah sakit.
Konsep Kota Pintar, kata Achmad, bukan juga sekadar ada banyak CCTV di seantero kota. “Perlu sistem untuk menggerakkan dinas terkait untuk melakukan action dari yang terekam di CCTV itu,” kata Achmad.
Jakarta meluncurkan program Smart City pada akhir 2014 lalu. Saat ini program itu bertumpu pada dua aplikasi: Qlue dan Cepat Respons Opini Publik (CROP). Qlue ditujukan untuk warga, sedangkan CROP untuk aparat pemerintah dan kepolisian.
Qlue itu adalah aplikasi Android sejenis sosial media tempat warga mengadukan apa saja secara realtime. Laporan kemudian dipetakan secara digital dan terintegrasi dengan website smartcity.jakarta.go.id dan aplikasi CROP.
Bandung sendiri sedang membangun infrastuktur dan aplikasi pendukung Smart City. Kota ini berambisi memiliki 300 aplikasi atau software manajemen kota dan diharapkan Smart City ala Bandung selesai sempurna tiga tahun lagi.
(ded/ded)