Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) memberikan penjelasan mengenai siklus matahari yang bertugas sebagai 'kompas' untuk menentukan arah kiblat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Thomas menjelaskan, pada tanggal 22 Juni besok, Matahari akan berada di puncak utara dan setelah itu, ia bakal bergerak menuju arah selatan pada 16 Juli mendatang sekitar pukul 16.27 WIB. Waktu ini kembali digunakan untuk menentukan arah kiblat. Rentang waktu yang digunakan yakni plus atau minus 5 menit dianggap masih cukup akurat.
Siklus yang diterangkan oleh Lapan tersebut adalah yang berlaku untuk daerah yang mengalami siang bersamaan dengan Kota Mekah seperti Indonesia Barat, Asia Tengah, Afrika, dan Eropa. Baca juga: Fenomena Alam Matahari Melintas Tepat di Atas Kabah
Dikutip melalui situs resmi Kementerian Agama Republik Indonesia, peristiwa semacam itu sering dikenal juga dengan nama Rashdul Qiblah yakni ketentuan waktu di mana bayangan benda yang terkena sinar matahari menunjuk arah kiblat.
"Bayang-bayang benda yang berdiri tegak, pada tanggal dan jam tersebut akan mengarah tepat ke Kabah," jelas Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah (Urais-Binsyar) Mukhtar Ali melalui rilis Ditjen Bimas Islam.
Saat peristiwa tersebut terjadi, Ali sempat menghimbau kepada kaum muslimim dan pengurus masjid dan mushalla untuk memverifikasi kesesuaian arah kiblat, yang selama ini mungkin kurang tepat. Baca juga: Matahari Tepat di Atas Kabah Saatnya Tentukan Rapikan Kiblat (tyo/eno)