Status Pluto Sebagai Planet Ditentukan oleh New Horizons

Hani Nur Fajrina, CNN Indonesia | Senin, 22/06/2015 10:29 WIB
Status Pluto Sebagai Planet Ditentukan oleh New Horizons Ilustrasi pesawat luar angkasa New Horizos yang mendekati Pluto. (Dok. Wikipedia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pesawat antariksa nirawak New Horizons milik NASA sejak Januari 2015 lalu sudah mulai meneliti Pluto. Pada 14 Juli mendatang, pesawat ini bakal berada di jarak terdekat dengan Pluto.

Saat New Horizons berada di fase terdekatnya dengan Pluto, ia akan mengambil gambar lalu mengirimnya kepada para ilmuwan di Bumi.

Pesawat sebesar piano itu diharapkan bisa mengungkapkan cincin yang melingkari Pluto, lautan 'rahasia' di bawah permukaan Pluto, ataupun jumlah bulan Pluto yang bisa saja bertambah.


Nantinya, data ilmiah yang diperoleh oleh New Horizons dipercaya bisa memberi peluang besar untuk kembali menjelaskan apakah Pluto bisa dipertimbangkan sebagai sebuah planet atau tidak.

"Jika ia mirip seperti bebek, berenang seperti bebek, mengeluarkan suara seperti bebek, kemungkinan ia memang seekor bebek," gurau pimpinan investigator misi New Horizons, Alan Stern.

Baca juga: Aneh, Bulan di Pluto Bergerak Tak Tentu Arah

Itu adalah pandangannya terhadap bagaimana perilaku planet-planet di galaksi ini. Mengutip laporan Popular Science, Stern secara tidak langsung menganggap Pluto layaknya planet pada umumnya karena memiliki sifat dan karakteristik yang sama seperti planet lain di sistem tata surya.

New Horizons sejauh ini sudah melakukan pengukuran partikel-partikel dan debu dari jarak 217 juta kilometer, serta memotret permukaan Pluto.

Tidak memenuhi 'syarat' menjadi planet?

Pluto sendiri ditemukan oleh astronom Clyde Tombaugh di Observatorium Lowell di Flagstaff, Arizona, AS, pada 18 Februari 1930. Sejak itu, masyarakat dunia sepakat bahwa tata surya diisi oleh sembilan planet.

Kemudian, datanglah International Astronomical Union (IAU), kelompok yang memberi nama untuk planet-planet. Pada 2006, mereka memberi beberapa klasifikasi atas benda langit yang bisa dikategorikan sebagai planet. Kelompok ini lantas memutuskan Pluto bukan sebuah planet.

Mereka memberi 'syarat' yang terdiri dari:
1. Berada di orbit di sekitar Matahari,
2. Memiliki massa yang cukup daya gravitasi untuk mengatasi dorongan keras sehingga bisa menerima keseimbangan hidrostatik,
3. Memiliki lingkungan yang bersih di sekitar orbitnya.

Dari ketiga syarat tersebut, IAU mengklaim Pluto tak 'lolos' pemenuhan syarat sebuah planet poin nomor tiga.

Terkait hal ini, Stern sempat mempertanyakan penjelasan mengenai "lingkungan yang bersih". IAU bermaksud menjelaskan bahwa daya gravitasi planet cukup besar untuk menyapu semua objek di wilayah sekitarnya.

Padahal kenyataannya, tiap planet di sistem tata surya memiliki objek lebih kecil di sekitarnya dan "tidak bersih". Dari sini, Stern menganggap teori IAU hanyalah sebatas lelucon.

"Kalau memang demikian, mereka mengesampingkan Jupiter yang memiliki asteroid Trojan di sekitarnya. Ada pula Neptunus yang orbitnya dilintasi oleh Pluto. Pemikiran tersebut sungguh menggelikan," kata Stern.

Pihak NASA kemungkinan tetap akan menunggu observasi New Horizons pada Juli esok demi perolehan data mengenai Pluto.
New Horizons diluncurkan oleh NASA pada Januari 2006. Ia telah menjelajah ruang angkasa selama 1.873 hari atau kurang lebih sembilan tahun.

New Horizons menjelajah ruang angkasa dalam kondisi setengah tertidur selama enam tahun belakangan. NASA membangunkannya tiap dua kali setahun untuk mengecek instrumen dan latihan manuver yang sekiranya akan dilakukan saat mendekati Pluto.

Misi New Horizons memang ditujukan untuk menjawab pertanyaan fundamental tentang planet kontroversial Pluto dan menjelaskan kehidupan awal dari Bumi. New Horizons juga diberi tugas untuk mengirimkan foto-foto Pluto yang diambil secara close-up. (adt)