Menristek: Nuklir di Serpong Aman untuk Lingkungan

Tri Wahyuni, CNN Indonesia | Rabu, 01/07/2015 10:20 WIB
Menristek: Nuklir di Serpong Aman untuk Lingkungan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir saat ditemui usai pelantikan pejabat Eselon I di Gedung BPPT, Jakarta, Selasa (30/6). (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rencana pembangunan proyek uji coba pembangunan reaktor pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Serpong, Banten, terus menuai pro dan kontra. Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir meyakinkan proyek ini tidak berbahaya dan akan dijadikan sarana edukasi.

Nasir mengatakan, selama ini reaktor nuklir yang dikelola Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) di Indonesia terbukti tidak menimbulkan masalah apapun baik dari sisi lingkungan maupun kerugian lainnya.

"BATAN sudah punya pengalaman. Mereka punya reaktor nuklir sudah 55 tahun sejak tahun 1960. Tapi tidak pernah mengganggu lingkungan," kata Nasir saat ditemui di Gedung BPPT, Jakarta.


Saat ini, kata Nasir, ada beberapa reaktor nuklir di Indonesia, yaitu di Yogyakarta, Bandung, dan berikutnya ada di Serpong. Nasir berani mengklaim jika reaktor nuklir yang dikelola BATAN tidak berbahaya lantaran reaktor nuklir yang ada di Bandung tidak menunjukkan dampak yang merugikan.

"Di Bandung tidak tanggung-tanggung reaktornya ada di kota. Kalau itu bahaya sudah meledak dan banyak yang mati," ujarnya.

Untuk itu ia mengimbau semua pihak agar tak perlu khawatir dengan adanya rencana pembangunan reaktor nuklir di Indonesia. Sebab, menurutnya, jika pembangunan tersebut tak kunjung dimulai, Indonesia akan terus tertinggal.

"Amerika maju karena listriknya memakai nuklir. Jepang, Prancis, Korea, juga memakai nuklir untuk listriknya," tutur Nasir.

Dijadikan Sarana Edukasi

Menteri Nasir mengatakan, paling tidak dibutuhkan waktu tujuh tahun untuk memfungsikan reaktor nuklir sebagai pembangkit tenaga listrik. Namun, pembangunan reaktor nuklir mini di Serpong ini diperkirakan akan selesai sebelum masa jabatan Presiden Joko Widodo selesai, yaitu pada 2018 atau 2019.

"Paling tidak sudah ada reaktor mini untuk edukasi dan pengembangan riset. Kawasan Serpong nanti menggunakan energi nuklir untuk penerangannya," ucapnya.

Selain Serpong, sebenarnya pemerintah juga sudah menyiapkan sejumlah daerah yang berpotensi untuk menjadi area pembangunan PLTN seperti Bangka Belitung. PLTN tersebut berkapasitas 5 x 1.000 Megawatt (MW). Sementara reaktor nuklir di Serpong nanti berkapasitas 30 MW.


(adt)


ARTIKEL TERKAIT