Menggunakan nama samaran HappyAddis, sang aktivis selama ini menggunakan jejaring sosial besutan Mark Zuckerberg itu untuk menciptakan dan mengatur sejumlah grup populer untuk kaum gay di Ethiopia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengutip situs Time, sang aktivis diharuskan untuk mengunggah dokumen yang mengkonfirmasi bahwa nama samaran "HappyAddis" adalah nama sahnya. Jika tidak, maka ia tidak bisa menggunakan layanan Facebook.
Zuckerberg pada awal Juli sempat mengklarifikasi mengenai kebijakan perusahaan mengenai penggunaan nama asli akun. "Nama asli Anda adalah apapun itu yang memang selalu digunakan dan nama yang biasa teman-teman gunakan untuk memanggil Anda. Jika mereka memanggilmu dengan nama panggilan dan Anda ingin menggunakannya di Facebook, ya tak masalah," ujar sang pendiri jejaring sosial.
Juru bicara Facebook mengatakan bahwa perusahaan masih mewajibkan para 'rakyatnya' untuk menggunakan nama sesungguhnya di kehidupan sehari-hari. Akun HappyAddis pun hingga saat ini masih diblokir.
Pihak perusahaan juga hanya berkomentar, para pengguna yang memang ingin memakai nama samaran, mereka menyarankan untuk menggunakan grup rahasia milik Facebook, Rooms, atau berpindah ke platform online lain yang memperbolehkan hal itu.
"Jika Facebook menyingkirkan kita, kita tak punya pilihan lain. Facebook itu media sosial terpopuler. Kita sulit menemukan orang lain di platform luar Facebook karena tak ada yang menggunakannya," ujar HappyAddis.
Pemblokiran yang dilakukan Facebook tersebut cukup membuat kecemasan kaum LGBT. Masih mengutip Time, apabila jejaring sosial itu tetap tegas terhadap kebijakan tersebut maka hal ini bisa memicu keadaan yang semakin sulit bagi para kaum LGBT di Ethiopia untuk berkomunikasi satu sama lain.
(tyo/eno)