Petisi bertajuk "Usut Tuntas Teror Tolikara dan Cokok Pelakunya" yang dibuat Maimon Herawati pada Senin (20/7) itu, telah mendapat sekitar 23 ribu dukungan pada jam 15.00 WIB, dan menargetkan bisa meraih 25 ribu dukungan.
Petisi juga meminta aparat penegak hukum menangkap pelaku penyerangan terhadap jemaah yang hendak melaksakan salat Idul Fitri di Tolikara, Papua.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penyerangan ini membuat jemaah Salat Id bubar. Penyerang kemudian membakar beberapa bangunan rumah dan kios yang ada.
Presiden Sinode Gereja Injili di Indonesia (GIDI) Dorman Wandikmbo menampik dugaan bahwa pihaknya melarang umat Islam beribadah di kala itu.
Dalam siaran pers yang terima CNN Indonesia, Dorman menjelaskan bahwa pihaknya hanya mengingatkan umat Islam di Tolikara untuk mematuhi surat pemberitahuan yang telah dilayangkan gereja dua minggu sebelum kegiatan dilangsungkan, yakni tidak menggunakan pengeras suara.
Alasannya, lokasi Salat Id hanya berjarak sekitar 250 meter dari tempat dilangsungkannya sebuah seminar internasional yang dihadiri oleh pemuda dari Nias, Sumatera Utara, Papua Barat, Kalimantan (Dayak), Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan diperkirakan mencapai dua ribu orang pemuda GIDI.
Informasi tersebut, kata Dorman, telah diberitahukan dua minggu sebelum Idul Fitri. Namun, ia menilai sosialisasi terkait pengumuman tersebut oleh aparat keamanan kepada warga Muslim sangat minim. (adt)