Seperti yang dirilis dari kantor berita Reuters, para ilmuwan juga diketahui mampu mempelajari efek stimulasi saraf tanpa melewati prosedur invasif, melainkan hanya dengan subjek tes yang ditambatkan dengan kabel atau yang dikenal dengan metode implan.
Yang menarik, meski implan tadi tak setebal rambut manusia nyatanya dengan memasangkan perangkat tadi di kepala tikus para ilmuwan mampu menentukan jalur tikus berjalan menggunakan remote kontrol.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di subjek tes tersebut, tikus akan dibuat tinggal di salah satu sisi kandang yang berjarak sehingga membuat pulsa implan dapat bersinar cahaya pada sel-sel tertentu. Bukanlah hal fiksi, hingga pada akhirnya antena yang ditaruh pada jarak jauh selama percobaan berlangsung mampu menggerakan tikus.
Meski terbilang invasif, penelitian ini sejatinya dilakukan untuk mengobati gangguan neurologis termasuk stres, depresi, kecanduan, dan nyeri pada manusia. Namun, sampai saat ini belum ada manusia yang telah menjadi 'tikus percobaan.'