"Yang perlu digarisbawahi, El Nino itu bukan gelombang panas," ucap Evi Lutfiati selaku Kepala Bidang Informasi Iklim dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kepada CNN Indonesia, Jumat (31/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dampak utama yang nyata adalah pengurangan curah hujan yang siginifikan di Indonesia," lanjut Evi.
Sesuai pantauan secara ilmiah, biasanya El Nino berkembang sekitar bulan Mei/Juni, kemudian semakin kuat pada September/Oktober dan November hingga memuncak sekitar Desember atau Januari. 'Kekuatan' El Nino bakal meruntuh pada akhir Februari, seiring dengan kembalinya kondisi cuaca yang mulai normal sekitar bulan Maret.
Namun Evi mengatakan bahwa El Nino yang terjadi pada 2015 kali ini di Indonesia diprediksi akan terus berlangsung hingga awal tahun 2016 mendatang.
Sementara pada Kamis (30/7) kemarin, Kepala BMKG Andi Eka Sakya mengatakan kekeringan di tahun ini berpotensi lebih parah dibandingkan tahun 1997.
El Nino diprediksi akan menguat mulai Agustus hingga Desember 2015. Tren penguatan El Nino 2015 ini ditunjukan dengan kenaikan indeks ENSO dari 1,6 pada Juni menjadi 2,2 pada Desember 2015.
Panjangnya musim kemarau di berbagai tempat di Indonesia, terutama di sebelah selatan khatulistiwa diduga merupakan dampak dari fenomena El Nino yang kini telah mencapai level sedang.
(tyo)