Kekecewaan ini disampaikan CEO Mozilla Chris Beard dalam surat terbuka kepada CEO Microsoft Satya Nadella. Ia menyebut langkah Microsoft ini sebagai "gerakan agresif yang mengesampingkan pilihan pengguna."
"Proses pembaruan (sistem operasi-red) sekarang tampaknya sengaja dirancang untuk membuang pilihan pengguna atas pengalaman Internet yang mereka inginkan, dan menggantinya dengan pengalaman Internet dari Microsoft," tulisnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Adobe Flash Diblokir Sementara karena Isu Keamanan
Microsoft sendiri menanggapi surat terbuka itu dan mengatakan mereka tetap memberi pilihan kepada pengguna untuk menentukan aplikasi peramban default.
Menurut sebuah studi pada Juni 2015 yang mencatat lalu lintas Internet, lembaga Net Applications mengatakan bahwa Firefox berada di peringkat ketiga peramban pilihan pengguna dengan pangsa pasar 12 persen, dibandingkan dengan Internet Explorer milik Microsoft sebesar 58,1 persen, dan Google Chrome sebesar 27,2 persen.
Edge sendiri merupakan peramban baru Microsoft yang menggantikan Internet Explorer di Windows 10. Tetapi Microsoft masih mempertahankan Internet Explorer versi 11 pada Windows 10 edisi Enterprise yang ditujukan kepada segmen korporasi.
Langkah ini dilakukan karena Microsoft memandang masih ada korporasi yang merancang aplikasi untuk berjalan optimal di peramban Internet Explorer. Mereka khawatir aplikasi korporasi ini tidak berjalan optimal di Edge. (adt/eno)