Ilmuwan Bikin 'Obat Antimabuk' dari Kacamata Virtual Reality

Hani Nur Fajrina, CNN Indonesia | Jumat, 07/08/2015 16:44 WIB
Ilmuwan Bikin 'Obat Antimabuk' dari Kacamata Virtual Reality Seorang pengunjung menjajal kacamata virtual reality Oculus Rift pada pameran Electronic Entertainment Expo (E3) di Los Angeles, California, 11 Juni 2014. (REUTERS/Kevork Djansezian)
Jakarta, CNN Indonesia -- Teknologi realitas virtual (virtual reality/VR) yang canggih sekalipun tetap memiliki 'kekurangan', yaitu mampu membuat pengguna mual sampai mabuk saat memanfaatkannya. Sejumlah peneliti terdorong untuk mengatasinya dengan menciptakan teknologi baru.

Perangkat VR bisa membuat mual dan pusing karena gambar tiga dimensi (3D) yang mereka produksi sifatnya bidang datar atau "flat plane". Gambar-gambar yang ditampilkan tidak mengandung kedalaman informasi, sehingga mata kita tidak fokus terhadap objek dekat dan jauh sebagaimana kita biasa melihat benda di kehidupan nyata.

Tim dari Stanford University memutuskan untuk membenamkan teknologi baru, yakni light-field camera. Diketahui, otak manusia menginginkan tindakan fisik untuk menyesuaikan apa yang sedang kita lihat, maka jika ada yang tak sesuai kita bisa merasa pusing.


Kehadiran kamera light-field ini dianggap sebagai cara cerdas untuk membuat mata kita fokus terhadap objek yang ditampilkan di perangkat VR.

Mengutip situs Engadget, para peneliti menciptakan kacamata atau headset dengan panel LCD transparan yang berlapis. Di setiap lapisan menunjukan bidang cahaya lengkap dengan kedalaman informasi yang tepat. Mereka yakin bahwa teknologi ini bisa membantu mata manusia fokus secara bergantian antara objek jauh dan dekat.

Tim peneliti pun mengklaim bahwa teknologi yang dipersembahkan oleh kamera light-field bisa membuat para pengguna semakin betah memakai perangkat VR dan 'tenggelam' di dalamnya untuk waktu yang lebih lama.

Diketahui pengguna produk Rift dari Oculus disarankan untuk istirahat sejenak tiap 10 atau 15 menit selama pemakaian agar tidak mengalami pusing atau mual.

Tim peneliti dikabarkan masih perlu menyempurnakan kinerja teknologi baru itu, seperti penambahan gambar untuk efek bidang cahaya dari kamera dan tampilannya harus lebih terang serta masih membutuhkan resolusi yang tepat.

Mereka meyakini, jika perusahaan tak kunjung bersiasat untuk atasi 'penyakit' VR ini, maka perkembangan teknologi tak perlu repot-repot menciptakan perangkat VR. Cukup hanya dengan televisi 3D saja, kata mereka. (adt)