Setelah pendapatan perusahaan asal Finlandia itu anjlok 73 persen pada tahun 2014 karena penurunan merek lisensi dari "Angry Birds", dan memberhentikan sekitar 110 pekerjaan, Rovio berfokus pada konten yang lebih lokal.
"Kami memiliki kemampuan membangun kapasitas berskala dunia dimana kami sangat kuat di masa lalu dan sebagian besar karena bekerja dengan mitra, namun tidak mencoba untuk melakukan semuanya sendiri," kata Chief Commercial Officer Alex Lambeek, kepada Reuters.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk Angry Birds 2, Rovio bermitra dengan perusahaan game mobil China Kunlun Inc agar membuat perubahan dari sisi bahasa agar pemain di sana lebih mudah memainkannya," kata Lambeek.
"Pelanggan China ingin berbicara dengan dan mendengarkan dalam bahasa mereka sendiri dengan humor khusus mereka sendiri," katanya.
Keinginan Rovio untuk menerbangkan Angry Birds lebih dekat ke China sampai merekrut aktor asal negara tersebut bernama Li Yifeng untuk memasarkan gamenya.
Selain itu, pekan lalu, Rovio menunjuk direktur baru untuk mengawasi ekspansi perusahaan ke India, di mana sekitar 500.000 pengguna telah mengunduh "Angry Birds 2."
Lambeek mengatakan Rovio akan bekerja dengan operator telepon seluler India untuk menarik konsumen yang mungkin memiliki disposable income yang lebih rendah, dengan membuat dalam game pembelian lebih terjangkau.
(tyo)