Karena Balon, Google jadi Pesaing Ericsson, Nokia dkk

Hani Nur Fajrina, CNN Indonesia | Jumat, 06/11/2015 15:38 WIB
Karena Balon, Google jadi Pesaing Ericsson, Nokia dkk Balon Internet Google akhirnya dizinkan oleh pemerintah untuk melakukan uji coba di Indonesia, didukung oleh tiga operator besar yakni Telkomsel, XL dan Indosat (Dok. Google)
Jakarta, CNN Indonesia -- Upaya Google dalam menyebar akses Internet dengan balon udara membuat posisi perusahaan tersebut kini bersaing dengan vendor radio pemancar atau base transceiver station (BTS) macam Ericsson, Huawei, ZTE, sampai Nokia.

Perusahaan Ericsson asal Swedia kini telah memandang Google sebagai pesaing. Kini mereka enggan berkomentar banyak soal balon udara tersebut, namun terus memantau perkembangan teknologi itu.

"Sejauh ini mereka masih dalam tahap kerjasama uji coba. Yang namanya teknologi baru, trial itu penting sifatnya," kata Thomas Jul, Presiden Direktur Ericsson Indonesia Thomas, beberapa waktu lalu.


Ericsson mengaku punya produk pesaing untuk balon Google, yang mereka sebut Ericsson Zero Site. Perangkat yang diklaim bisa memberi solusi bahdwidth ini dipakai menumpang BTS milik operator yang sudah ada, dan diklaim cocok untuk daerah pedalaman karena bisa beroperasi di lokasi yang minim listrik.

Baca juga: XL Sebut Balon Google Belum Tentu Dikomersialkan

Seperti halnya Google dengan balonnya, Ericsson mengaku telah bekerjasama dengan operator yang enggan ia sebutkan namanya, memanfaatkan frekuensi seluler 900 MHz.

Pihak Google sendiri menilai balon udara mereka dapat menjadi infrastruktur alternatif di kawasan yang masih minim infrastruktur telekomunikasi darat.

Menurut rencana, pada tahun 2016 mendatang, balon Internet Google akan diuji teknis memanfaatkan frekuensi 900 MHz milik Telkomsel, XL Axiata, dan Indosat.

Balon itu akan mengudara di ketinggian 20 km dari permukaan laut. Ia bisa memancarkan koneksi Internet 4G LTE dengan radius 40 kilometer ke darat dari tempat lokasi balon itu berada.

Dalam hal ini, Google menyediakan perangkat radio pemancar di balon udara. Google mendesain sendiri radio pemancar agar tahan terhadap hujan, angin, sampai cuaca ekstrem. Balon itu bisa bertahan selama 150 hari di angkasa, dan sebelum ia diturunkan Google akan menerbangkan balon lain sebagai pengganti.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan, untuk menakar kelanjutan balon Google itu masih sangat jauh, mengingat saat ini perangkat tersebut masih dalam proses penelitian dan pengembangan.

Jika nanti perangkat ini dapat dimanfaatkan secara komersial di Indonesia dan memberi efisiensi yang baik, ia tak segan untuk menginzinkannya.

"Kalau (Project Loon) ternyata memang lebih efisien, itu kompetisi teknologi namanya. Sebetulnya bukan hanya Google, karena kalau ada yang nasional seperti Loon pasti akan saya dorong," ucap Rudiantara kepada awak media saat dijumpai di Hotel Shangri-La.

Persaingan teknologi di antara para vendor BTS dinilai sebagai hal yang wajar dalam industri. Yang jelas, sejak awal Rudiantara akan mendorong efisiensi dalam industri telekomunikasi agar menguntungkan bagi perusahaan telekomunikasi dan konsumen.

"Seharusnya bukan soal merugikan vendor lain, namanya juga kompetisi teknologi. Kalau operator bisa menyelenggarakan lebih murah, artinya jualannya lebih murah juga. Yang senang siapa? Masyarakat," tegas Rudiantara.

Menurut rencana, tiga perusahaan telekomunikasi Indonesia akan menguji balon Google di kawasan Indonesia timur secara bergantian. Mereka belum tentu mengkomersialkan layanan memanfaatkan balon itu lantaran belum mengetahui model bisnis dan biayanya.

(adt/eno)