Dalam konferensi Kaspersky Cyber Security Summit Asia Pasifik 2015 di Malaysia, Kamis (19/11), perusahaan asal Rusia ini mengatakan peretas makin tertarik menyerang lembaga keuangan. Mereka menargetkan sebuah platform yang serangannya sengaja dilakukan secara terus-menerus.
Kendati metode pembayaran dengan Android Pay dan Apple Pay yang memanfaatkan NFC ekosistemnya belum terbentuk saat ini, dan baru sedikit pihak perusahaan yang mendukungnya, namun Kaspersky tak menampik kemungkinan kedua metode bayar online ini akan jadi sasaran empuk.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pergeseran tren serangan siber terhadap perangkat mobile didorong oleh pertumbuhan jumlah pengguna ponsel pintar secara global. Android merupakan sistem operasi yang paling populer saat ini, disusul oleh iOS buatan Apple.
Mereka tidak hanya tertarik dengan informasi pribadi nasabah, tetapi juga bertujuan mencuri uang.
Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Badan Reserse Kriminal Polri, pada April 2015 lalu mengungkap modus penipuan oleh warga asing yang menggunakan peranti lunak jahat (malware) yang telah mencuri uang warga Indonesia sebesar Rp 130 miliar dalam sebulan.
Baca juga: Bermodus Malware, Warga Asing Raup 130 Miliar dalam Sebulan
Pelaku menggunakan malware untuk mengalihkan nasabah bank yang hendak mengakses laman perbankan elektronik atau e-banking, dengan membuat laman palsu yang dirancang agar mirip dengan laman asli.
Kepolisian menduga pelaku kejahatan siber ini berada di Ukraina, dan Indonesia telah bermitra dengan Interpol untuk mengejar penjahat siber ini.
Kamluk menyarankan perusahaan atau lembaga keuangan perlu melakukan investasi lebih dalam mengamankan data bisnis dan konsumennya. Bahkan jika perlu membentuk divisi khusus untuk menganalisa isu program jahat dan membuat solusinya.
“Sementara bagi pengguna, jangan pernah mengklik lampiran dari email yang pengirimnya tidak dikenal,” demikian saran Kamluk agar pengguna terhindar dari kejahatan siber.
Selain itu, pengguna disarankan untuk tidak membuka situs web yang tak diketahui identitas pengelolanya, termasuk situs web pornografi dan torrent yang dinilai banyak pihak sebagai “gudang” dari program jahat komputer.
Penting pula agar rajin memperbarui sistem operasi terkini yang telah mengalami peningkatan keamanan, serta melakukan pembaruan peranti lunak antivirus dan memindai komputer dari kemungkinan terinfeksi virus.