Tim ilmuwan dari Vanderbilt University, Tennessee, Amerika Serikat mempublikasikan riset mereka tentang sensor spektroskop sinar gamma. Sensor cerdas ini disematkan di dalam satelit CubeSat.
Sensor ini menggunakan komposisi kristal dari senyawa iodida strontium eropium yang mampu mendeteksi energi tingkat tinggi dari sinar gama yang dipancarkan oleh asteroid.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengutip situs Gizmodo, sinar gamma terbentuk saat sinar kosmik menghantam asteroid dan menghancurkan atom di lapisan atasnya. Nah, intensitas dan panjang gelombang emisi sinar gamma memungkinkan para ilmuwan meneliti komposisi asteroid, seperti konsentrasi zat besi, oksigen, magnesium, silikon, dan yang paling penting adalah logam dan kristal.
Ia lalu menjelaskan, "dengan sistem yang kami ajukan ini seharusnya memungkinkan pengukuran komposisi di bawah permukaan lebih akurat dengan biaya terjangkau."
Sejauh ini, rencana penambangan asteroid dan Bulan, mulai dari mengembangkan peralatan hingga eksekusinya bakal menelan biaya yang sangat besar.
Ya, tak hanya asteroid, namun Bulan juga jadi sasaran galian manusia. Bulan yang diperkirakan memiliki 1,6 miliar ton air es dan elemen langka yang berlimpah tersembunyi di bawah permukaannya, mulai dilirik sejumlah perusahaan swasta Shackleton Energy Company (SEC) untuk dijadikan lahan penambangan.
SEC yang berbasis di Texas itu berencana menambang cadangan besar air es untuk diubah menjadi bahan bakar roket dalam bentuk hidrogen dan oksigen, kemudian nantinya akan dijual ke mitra antariksa pada orbit rendah Bumi. (tyo)