ISIS Gunakan Aplikasi Pesan Instan Baru

Marry Marsela, CNN Indonesia | Jumat, 15/01/2016 14:10 WIB
Sempat menggunakan Telegram, kelompok teroris ISIS dikabarkan menggunakan aplikasi pesan instan baru. Ilustrasi Telegram sebagai platform perekrutan ISIS
Jakarta, CNN Indonesia -- Kelompok peretas Ghost Security Group (GSG)baru-baru ini menemukan aplikasi pengirim pesan yang menjadi media komunikasi baru bagi kelompok teroris ISIS.

Aplikasi khusus Android buatan ISIS ini bernama Alrawi ini berhasil diidentifikasi pada tanggal 11 Januari lalu, sebagaimana dilaporkan dalam International Business Times.
GSG menyatakan aplikasi ini mirip dengan aplikasi Amaq Agency yang sebelumnya ditemukan pada bulan Desember 2015 oleh CtrlSec. Namun, fitur enkripsi komunikasinya masih belum sesempurna Telegram atau aplikasi yang sudah ada sebelumnya.

Sekitar sebulan yang lalu, ISIS diketahui sempat menyebarkan informasi kepada para simpatisannya di seluruh dunia melalui Telegram dan Twitter agar mereka semua mengunduh aplikasi Amaq Agency yang muncul terlebih dahulu. Namun, aplikasi ini tiba-tiba menghilang dan digantikan dengan kemunculan aplikasi baru bernama Alrawi.


Ketika ingin merencanakan sebuah serangan, ISIS kini dikabarkan menggunakan aplikasi Alrawi ini atau berkomunikasi secara offline.

Meskipun telah membangun saluran komunikasi baru, ISIS pun diperkirakan masih menggunakan fitur pesan langsung Twitter dan Telegram untuk mengirimkan berbagai update foto dan video terbaru untuk menyebarluaskan kekuatannya.

"Fungsi utama dari aplikasi ini adalah untuk distribusi propaganda. Dengan menggunakan aplikasi ini anda dapat mengikuti berita terbaru dan berbagai cuplilkan video,” ungkap perwakilan Ghost Security terhadap Defense One.

FBI diketahui telah memantau komunikasi virtual ISIS melalui aplikasi pesan terenkripsi seperti WhatsApp, namun mereka mengaku sangat sulit melacak aplikasi baru buatan ISIS ini.

James Comey, Direktur FBI juga sempat meminta perusahaan-perusahaan teknologu di Silicon Valley untuk membuat sebuah aplikasi pesan yang dapat 'menerobos' komunikasi virtual kelompok teroris tersebut.

Komunikasi melalui dunia maya memang tengah menjadi salah satu andalan ISIS dalam menyebarkan propaganda dan teror di dunia, sekaligus menjadi strategi ISIS untuk memenangkan perang hibrida yang kini tengah berlangsung di abad ke-21 ini.

Pasca serangan di Paris pada 13 November 2015 lalu, ISIS memang diketahui gemar menggunakan aplikasi pesan terenkripsi sebagai jalur komunikasi virtualnya.

Militan-militan ISIS pun tampaknya juga tidak mau kalah berjuang di dunia maya dan terus mencari cara untuk bisa terhubung satu sama lain meskipun berbagai saluran komunikasinya sempat 'dibungkam' oleh berbagai pihak.

Sebelumnya, tercatat setidaknya terdapat 78 kanal jaringan ISIS yang ditutup oleh Telegram. Hacker pun sempat meretas sekitar 900 akun Twiiter yang terafiliasi dengan kelompok teroris ini.

Namun sepertinya, media komunkasi ISIS ini memang tampaknya seperti pepatah 'mati satu, tumbuh seribu'. Pasalnya, pasca gempuran terhadap media sosial ISIS ini diketahui bermunculan berbagai akun baru, seperti misalnya kanal Telegram bernama Trendit yang ditujukan untuk menjangkau para simpatisannya, sampai mereka yang berada di Indonesia.

Sampai saat ini, berbagai pihak mulai dari pemerintah hingga kelompok peretas pun masih terus melakukan berbagai cara untuk menguak jalur komunikasi virtual dari kelompok teroris radikal yang belakangan ini diduga bertanggung jawab terhadap berbagai serangan, seperti yang baru saja terjadi di Sarinah, Jakarta pada Kamis kemarin.

REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK