Mengenal FinTech, Layanan Perbankan Berbasis Online

Hani Nur Fajrina, CNN Indonesia | Selasa, 19/04/2016 13:27 WIB
Mengenal FinTech, Layanan Perbankan Berbasis Online Ilustrasi ( ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf/)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kemajuan teknologi seakan tak memiliki batas sehingga kekuatannya mampu merambah banyak sektor, salah satunya ekonomi. Ini merupakan asal mula munculnya industri Financial Technology (FinTech).

FinTech sendiri membuat tujuan untuk membuat layanan finansial atau perbankan menjadi lebih efisien karena memanfaatkan kehadiran teknologi.

Dalam diskusi panel Indonesia FinTech Conference di Jakarta, CEO portal online Modalku Reynold Wijaya mengatakan, para pelaku financial technology ini mayoritas adalah start up yang hadir untuk bersinergi dengan bank.

"Di industri FinTech pelakunya memiliki dan memanfaatkan akses teknologi agar lebih memudahkan konsumen. Pada dasarnya industri FinTech akan lebih efisien khususnya para UKM (Usaha Kecil Menengah)," ucap Reynold, Selasa (19/4).


Hal senada disampaikan oleh Direktur HelloPay Indonesia Mario Gaw. Menurutnya, FinTech diisi oleh perusahaan baru atau usaha kecil menengah (UKM) yang bergerak di sektor keuangan, namun bergerak di ranah digital.

"Industri FinTech memberi solusi untuk UKM yang lebih terjangkau, karena sebuah platform keuangan digital sudah sepakat dengan mitra bank untuk menentukan produk yang diinginkan UKM," kata Mario.

Mario menuturkan, bergerak di industri FinTech juga menciptakan efisiensi mulai dari biaya hingga pengadaan staf karyawan. "Kami tidak perlu rekrut banyak staf seperti bank pada umumnya," sambungnya sambil tertawa kecil.

Dengan munculnya para pemain yang bergerak di industri FinTech seperti Modalku dan HelloPay sendiri, pimpinan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D. Hadad berharap kegiatan finansial bisa menjadi mainstream ke depannya.

Ia pun berharap selain dari OJK, Kementerian Keuangan dan Kementerian Komunikasi dan Informatika bisa saling mendukung dan kerjasama demi industri FinTech yang sehat.

"Ya, harus sehat ekosistemnya, jangan membayangkan satu sama lain antara pelaku start up finansial dan bank. Menurut saya industri FinTech di Indonesia akan terus tumbuh," tutur Muliaman.


FinTech ancaman bagi bank?

Layaknya dua layanan yang berada di dua 'kubu' berbeda yakni offline dan online, pasti muncul tanggapan mengenai persaingan.

Reynold menceritakan, dalam proses Modalku menjalin kemitraan dengan bank, ada banyak bank yang menyambut dengan baik namun ada juga yang menolak karena usahanya dianggap sebagai sebuah ancaman.

"Ada sebuah persepsi bahwa kami seakan-akan hadir untuk mematikan kehadiran bank. Padahal pelaku FinTech hadir untuk membantu dan melengkapi layanan keuangan yang bisa memperluas ekosistem bank itu sendiri," jelas Reynold.

Ia menyambung, "ada sebesar US$54 juta financial gap dan tidak semua bisa dirangkul oleh bank. Maka kita hadir untuk membentuk pasar baru."

Layanan online seperti Modalku diakui Reynold sebagai enabler bagi pelaku UKM untuk dirangkul dan diberi akses keuangan. Bahasa sederhananya, pelaku FinTech ingin menjadi solusi.
Reynold Wijaya, CEO Modalku bersama dengan Iwan Kurniawan, COO Modalku dan Jason Ekberg, Head of Indonesia Oliver Wyman saat memberikan keterangan pers mengenai Indonesia Fintech Conference 2016, Jakarta, Selasa (19/4). (CNN Indonesia/Christine Nababan)

Dari cakupan yang lebih besar, kemampuan pelayanan kepada UKM agar mereka bisa melakukan usahanya sendiri akan berujung pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Sama seperti Reynold, Mario juga menyatakan tentang posisi pelaku FinTech — apakah menganggu (disruption) kegiatan keuangan yang sudah atau tidak.

"Posisi kami sebetulnya bukan untuk men-disrupt yang sudah ada, tetapi sebagai pelengkap. Pelaku FinTech dan bank harus sama-sama eksis," ungkap Mario.

Sementara Deputi Akses Keuangan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Fadjar Hutomo turut mengatakan bahwa FinTech dipercaya sebagai solusi bagi ekonomi kreatif.

Menurutnya, hal utama yang para pelaku FinTech harus lakukan dari awal adalah menjaga trust alias kepercayaan masyarakat.

"Apapun yang muncul bisa saja dianggap sebagai disruptor apabila ia tidak mau berubah. Agar industri ini terus tumbuh, ya perlu sinergi sehat antara bank, OJK, dan pelaku FinTech," imbuh Fadjar. (tyo)