Astronaut Misi Apollo Berisiko Meninggal karena Sakit Jantung

Hani Nur Fajrina, CNN Indonesia | Jumat, 29/07/2016 14:10 WIB
Berdasarkan penelitian terbaru, terungkap para astronaut misi Apollo NASA yang pernah terbang ke Bulan, lebih berisiko terkena penyakit jantung. Kru misi Apollo 11. (Dok. Wikipedia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Misi Apollo dari NASA identik dengan perjalanan menuju Bulan. Berdasarkan riset teranyar, terungkap bahwa astronaut Apollo cenderung kena risiko penyakit jantung.

Apollo sebagai salah satu program terkenal dari NASA telah mengirim 11 misi dari 1968 hingga 1972. Tercatat ada 24 astronaut yang terbang menjalani Apollo, termasuk Apollo 11 yang terdiri dari Neil Armstrong dan Buzz Aldrin sebagai yang pertama menginjakan kaki di Bulan, serta Michael Collins.

Apollo NASA begitu legendaris, namun ternyata dampaknya cukup serius bagi kesehatan para astronaut yang terlibat.


Berdasarkan penelitian yang baru dipublikasikan di jurnal Science oleh tim ilmuwan dari Florida State University, angka kematian yang disebabkan oleh penyakit jantung lebih tinggi lima kali lipat akan terjadi pada astronaut Apollo ketimbang mereka yang tidak pernah terbang ke antariksa.

Mengutip CBS News, sebagai perbandingan, astronaut yang hanya menjalankan misi di orbit rendah Bumi (low Earth orbit/LEO) terkena risiko penyakit jantung empat kali lebih besar.

Dari situ tim ilmuwan ingin menunjukan bahwa perjalanan ke luar angkasa yang notabene melampaui medan magnet protektif bisa mengakibatkan kerusakan bersifat 'abadi' pada sistem kardiovaskular.

Terlebih NASA berencana mengirim awak manusia ke Mars pada 2030-an.

Astronaut Apollo 'berbeda' dari yang lain

Tidak seperti misi antariksa lain, astronaut Apollo yang menargetkan Bulan sebagai objek penelitian adalah mereka yang harus menjelajah ke luar medan geomagnetik Bumi.

Mereka adalah orang-orang yang rela pergi keluar dari magnetosfer protektif Bumi, yakni kawasan yang menyelimuti planet di mana medan magnetiknya mendominasi.

Magnetosfer perannya adalah membuat sinar kosmik antariksa dan partikel surya tidak menembus Bumi.

Nah, para astronaut Apollo terkena paparan radiasi sinar kosmik di antariksa yang mengakibatkan masalah pada organ jantung.

"Kita kemungkinan meremehkan dampak dari radiasi antariksa jarak jauh, dan tidak hanya sistem kardiovaskular saja, namun bagi kesehatan secara umum," ucap pimpinan penelitian Michael Delp.


Dari 24 astronaut yang terbang di sekitar Bulan, delapan di antaranya telah meninggal dunia. Dari tujuh awak yang diteliti, 43 persennya meninggal karena penyakit jantung. Sisanya, karena kanker dan kecelakaan.

Kemudian ada pula pengaruh lain yang membedakan apa yang menimpa astronaut laki-laki dengan perempuan. Salah satunya keadaan weightlessness yang bisa mengganggu pengaturan tekanan darah, masalah yang cenderung terjadi pada kaum perempuan.

Dari penelitian tersebut juga terungkap, semua astronaut yang meninggal karena penyakit jantung adalah laki-laki.

"Dengan segala rencana untuk berangkat ke antariksa jarak jauh, kita sudah punya kelompok kecil ini (astronaut Apollo) yang sudah melakukannya," terang Delp. "Sebelumnya tidak ada yang meneliti konsekuensi kesehatan jangka panjang yang mereka alami."


Sementara itu pihak NASA telah merilis pernyataan untuk menanggapi penelitian tersebut.

"Tidak mungkin untuk menentukan apakah radiasi sinar kosmik yang mempengaruhi kesehatan astronaut program Apollo. Terbatasnya objek penelitian, termasuk jumlah astronaut Apollo yang tidak banyak serta faktor gaya hidup mereka tidak bisa diukur," tutur pihak NASA. (adt)