Dilaporkan New York Post, bocah lelaki itu mengalami luka bakar di bagian tangan saat sedang memainkan ponsel jumbo teranyar Samsung pada Sabtu (10/9).
"Anak ini sedang menonton video di ponsel lalu baterainya meledak," ucap sang nenek, Linda Lewis. “Alarm kebakaran rumah saya sampai menyala."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dia sekarang sudah di rumah dan tidak mau berada di dekat ponsel apapun. Hanya bisa menangis ke ibunya," katanya lagi.
Lewis juga mengaku bahwa keluarganya telah menghubungi pihak Samsung terkait insiden tersebut.
Mayoritas ponsel pintar saat ini, termasuk Galaxy Note 7, menggunakan baterai yang bisa diisi ulang jenis lithium-ion (Li-ion). Yang menjadikan baterai rentan terbakar pada Galaxy Note 7, yakni reaksi kimia dalam energi padat di dalamnya saat perangkat dioperasikan.
Samsung diketahui telah menjual 2,5 juta unit Galaxy Note 7 di 10 negara. Di kawasan Australia, produsen asal Korea Selatan ini melaporkan telah menarik 51.060 unit ponsel dan bersedia menawarkan pilihan kompensasi berupa pengembalian uang, perbaikan, atau penggantian dengan ponsel tipe lain.
Akibat insiden ini, Samsung pun mengambil langkah untuk menarik kembali semua ponsel yang telah terjual dan menghentikan pemasaran hingga waktu yang belum bisa dipastikan.
Lembaga riset IDC melaporkan akibat penarikan produk di pasar (recall), Samsung bukan hanya mengalami kerugian dari sisi keuangan, tapi lebih penting menjadi sebuah respons yang tepat untuk menyelamatkan pamor merek. (adt)