Program ini merupakan yang kedua bagi Kibar setelah merancang program serupa di kampus Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, yang bernama Innovation Academy.
LSPR, yang lebih dikenal sebagai kampus khusus hubungan masyarakat (PR) dan pemasaran (marketing), justru menjadi alasan Kibar memilih mereka sebagai ruang inkubasi baru untuk para pendiri bisnis digital.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Yansen, Kibar berusaha menciptakan tren baru di mana tech-startup tak melulu diciptakan oleh figur berlatar belakang teknologi informasi (IT).
Latar belakang non-IT dalam mendirikan bisnis digital juga jadi perhatian Vice President Gojek, Alamanda Shantika. Menurutnya, latar belakang pendidikan seharusnya tak membatasi karya startup yang bisa dibuat.
Ia mencontohkan Nadiem Makarim sang pendiri Gojek yang memiliki latar belakang hubungan internasional dan bisnis, yang pada akhirnya punya kemampuan membaca kebutuhan pasar, dan mampu merekrut talenta untuk mewujudkan ide-ide besar.
"Nadiem itu bukan programmer. Ia sekolah di Harvard kan belajar bisnis," kata Alamanda.
Turut dihadiri beberapa pendiri startup lain, peluncuran Trailblazers diharapkan memunculkan inovasi baru yang memberi solusi di Indonesia. LSPR sendiri menjadi kampus ketiga yang telah bekerja sama dengan Kibar setelah UGM dan Institut Teknologi Bandung dalam mengembangkan ekosistem bisnis digital.
Saat ini Kibar dalam perjalanan menjalankan program 1000 Startup Digital Indonesia. Program tersebut mendapat dukungan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika yang ingin menjadikan negara ini sebagai pusat perkembangan teknologi Asia Tenggara. (adt)