Ilmuwan Perempuan Rentan Alami Pelecehan Seksual

Hani Nur Fajrina, CNN Indonesia | Selasa, 04/10/2016 05:46 WIB
Ilmuwan Perempuan Rentan Alami Pelecehan Seksual Ilustrasi. (Dok. Gilead Sciences Inc)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Obrolan semakin mengarah ke hal berbau seksual, lalu bergerak ke sentuhan fisik -- seperti menyentuh leher saya." Penuturan di atas adalah salah satu pengakuan dari ilmuwan perempuan di bidang astronomi Amerika Serikat. Ia menjadi salah satu sasaran pelecehan seksual yang dilakukan oleh laki-laki di lingkungan akademik maupun tempat penelitian.

Ilmuwan roket dari University of Arizona, Alessondra Springmann mengaku, pada dasarnya hal-hal yang berbau pelecehan seksual sudah terjadi di lingkup antropologi, filosofi, fisika, hingga ilmu sosial dan teknik.

"Namun bidang astronomi menjadi yang pertama yang mengalaminya," ujarnya kepada CNN.


Menurut Springmann yang mempelajari soal asteroid dan komet itu, pelecehan sudah seperti 'kultur' yang menyebar di bidang sains.


Tentunya hal tersebut sangat kontras dengan apa yang didorong oleh pemerintah AS agar lebih banyak perempuan yang mengambil karier di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (science, technology, engineering, and mathematics/STEM).

"Sangat tidak masuk akal, terlebih jika pelecehan tersebut berakar pada kepolosan saya atau usia saya yang masih muda," ungkap Sarah Ballard dari Massachusetts Institute of Technology.

Ballard yang aktif mempelajari dan meneliti planet tata surya itu pertama kali mengalami pengalaman tersebut saat duduk di bangku kuliah.

Hal itu tentu saja mampu membunuh kepercayaan diri dan mental mereka. Namun tampaknya kasus seperti ini belum pernah ditangani dengan serius.

Masih dari laporan CNN, belum lama ini seorang anggota dewan perwakilan dari California, Jackie Speier, mengajukan draf ke Gedung Putih yang isinya memerintahkan institusi yang mendapat sokongan pemerintah agar melaporkan investigasi pelecehan.


Ia mengatakan, pihak universitas akan melanjutkan pemantauan tindakan asusila.

"Banyak korban yang meninggalkan bidang mereka dan itu sangat tragis. Tragis untuk masyarakat, dan tentunya bagi para perempuan muda yang hendak mengejar karier," ujarnya.

Ternyata memang banyak profesor astronomi yang kedapatan melakukan pelecehan seksual, namun masih tetap aktif bekerja. Bahkan sampai direkrut oleh universitas bergengsi lain.

Dugaan yang muncul adalah bisa jadi pihak universitas tidak tahu atau memang ragu untuk memecat para pelaku karena khawatir kehilangan para peneliti yang menjadi aset dalam pendanaan penelitian.

"Jika ada orang yang melakukan diskriminasi tindakan berbau seksual, mereka tidak akan mendapat kucuran dana pemerintah dan namanya akan tercoreng dari dunia akademik," begitu salah satu isi pernyataan draf.

Draf tersebut diharapkan mampu membawa perubahan, khususnya bagi sikap pihak universitas dan pelaku penelitian di dalamnya agar bisa menjunjung kesetaraan gender.

"Ini seperti pesan penting bagi universitas di jagat negeri ini, bahwa Anda tidak bisa bersembunyi dari aksi asusila," ujar Speier. (tyo)