Ambisi China untuk bisa menggunakan stasiun luar angkasa sendiri ternyata bukan hanya angan-angan.
Stasiun antariksa kedua miliknya, Tiangong-2 telah diluncurkan lebih dulu pada 15 September lalu menggunakan roket Long March 7.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Misi ini terdiri dari Jing Haipeng yang sebelumnya sudah dua kali mengangkasa di orbit rendah Bumi dan Chen Dong.
Tugas utama dua astronaut selama berada di luar angkasa 30 hari adalah menguji coba komputer serta melakukan sejumlah eksperimen.
Stasiun Tiangong-2 membawa 14 instrumen eksperimen, salah satunya perangkat pendeteksi atmosfer yang bisa melacak polusi udara.
Selain itu, mereka juga bisa melakukan percobaan kesehatan kardiovaskular hingga studi penanaman tumbuhan.
Lihat juga:Ilmuwan Mulai Lakukan Simulasi Hidup di Mars |
"Ini adalah mimpi setiap astronaut untuk menjalani misi antariksa sebanyak mungkin," ujar Haipeng.
Kurang dari sebulan lalu, China juga telah meluncurkan satelit kuantum pertama di dunia. Pemerintah mengatakan tujuan utama peluncuran satelit kuantum terkait dengan isu peretasan komunikasi yang sempat beredar.
Sejauh ini Negeri Tirai Bambu itu juga punya ambisi besar untuk mendaratkan rover di Mars pada tahun 2020. Target tersebut melihat keberhasilan misi Viking 1 Amerika Serikat yang telah lebih dahulu mendaratkan rover di Mars. (hnf/tyo)