"Media sosial dan video online akan memimpin laju pertumbuhan belanja iklan global, terlepas ada ancaman politik terhadap ekonomi," ucap Jonathan Barnard yang menjabat kepala tim prediksi di Zenith Optimedia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Media konvensional seperti media cetak dan televisi sebelumnya merajai pendapatan iklan hingga melejitnya penggunaan internet secara global. Perubahan tersebut menggeser pilihan perusahaan untuk beriklan ke digital yang bisa diakses lewat komputer maupun ponsel.
Zenith memperkirakan belanja iklan pada 2017 akan sama seperti tahun ini di angka 4,4 persen. Asia dan China dinilai akan menjadi ladang utama belanja iklan, sementara pertumbuhan pasar di Timur Tengah dan Afrika Utara melemah.
Berdasarkan laporan Nielsen Indonesia, televisi masih menjadi pilihan utama para pengiklan membelanjakan bujetnya. Pada semester I 2016, televisi meraup 51,9 triliun atau meningkat 26 persen dari tahun lalu. Di sisi lain, sektor digital di dalam negeri baru menyentuh memperoleh belanja iklan Rp13 triliun, dengan porsi media sosial hingga Rp8,5 triliun.
Meski masih cukup jauh dengan pendapatan televisi, penetrasi ponsel cerdas, media sosial, dan video online yang sangat cepat di Indonesia diperkirakan akan mempercepat pertumbuhan belanja iklan digital.
(tyo)