Berita Palsu Disebar, Pundi-pundi Uang Datang

Susetyo Dwi Prihadi | CNN Indonesia
Senin, 05 Des 2016 11:30 WIB
Bermodalkan blog, membuat konten berita palsu, menyebar di media sosial, akhirnya pundi-pundi uang pun datang. Ilustrasi (Foto: Barn Images)
Jakarta, CNN Indonesia -- CEO Facebook Mark Zuckerberg sedikit berang saat pemilihan Presiden Amerika Serikat selesai digelar. sebab, jejaring sosial miliknya dianggap sedikit banyak memberikan ‘jalan’ untuk kemenangan Donald Trump. Semua orang paham, Trump adalah calon presiden AS yang dikenal suka memberikan pernyataan kontroversial.

"Secara pribadi, saya rasa teori bahwa berita palsu di Facebook -yang jumlahnya sedikit- memengaruhi pemilihan adalah ide yang cukup gila," aku Zuckerberg pada Kamis (11/11) silam.

Sedikit? Menurut survei yang dilakukan oleh Buzzfeed, total Facebook engagement untuk berita palsu meningkat menjadi 8.7 juta jelang pemilihan berlangsung, sementara berita dari media mainstream malah turun drastis ke angka 7.3 juta.

Setelah ditelusuri lebih jauh, ini bukan mesin penggerak dari salah satu calon pasangan Presiden AS. Karena ada pembuat situs abal-abal yang memang berniat menjadikan bisnis membuat berita palsu demi mengeruk uang.


Dalam sebuah wawancara dengan Washington Post, Paul Horner, pemilik situs palsu yang menyebarkannya melalui Facebook mengaku bisa mendapatkan US$ 10 ribu atau Rp 135 juta sebulan.

Dari salah satu tim pemenangkah? Oh tidak, karena sejatinya dia mendapatkan itu semuanya dari Adsense. Layanan platform iklan milik Google yang bisa ‘ditempel’ di blog apapun dan akan bergerak untuk menghasilkan uang, dengan metode biasanya pay per click.

Dengan demikian, makin banyak pengunjung berarti makin besar peluang untuk mendapatkan uang dari hasil klik ke Adsense.

Horner bukan satu-satunya yang masuk ke gurihnya bisnis berita palsu ini. Seorang remaja asal Makedonia—yang nun jauh dari AS—berhasil mendapatkan US$ 5 ribu sebulan atau setara Rp 67 juta dari gurihnya menyebar hoax.

David Carroll, seorang profesor desain media di New School dan ahli dalam teknologi periklanan, mengatakan ini adalah model bisnis yang telah berubah sedikit selama bertahun-tahun.

”Siapa saja bisa membuat situs dan memasang iklan pada blog itu," katanya. "Mereka dapat dengan mudah memulai bisnis, membuat konten, dan setelah itu menyebar secara viral, dan mendorong trafik ke situs mereka."

Caroll menambahkan, karena kemudahan itu, tentu saja informasi berita yang didapatkan tak bisa disahihkan. Apalagi, tak semua pengelola terang-terangan menampilkan identitas situs dibuatnya.

Bagaimana di Indonesia?

Komunitas Masyarakat Anti Hoax membeberkan 'otak' di balik penyebaran berita dan informasi hoax di Indonesia yang memang semakin masif. Mereka bahkan mendapat untung ratusan juta rupiah.

Septiaji Eko Nugroho dari Masyarakat Anti Hoax mengatakan, ada dua situs web yang dirosoti sangat getol menyebarkan berita hoax.

"Saya sebut nama saja yaitu Posmetro dan Nusanews. Itu yang ngelola siapa? Anak kuliah di Sumatera sana. Tapi yang lain masih banyak sekali," tutur Septiaji.

Mirisnya, aksi yang mereka lakukan itu mampu mendulang keuntungan yang masif juga. Trafik pengunjung situs mereka memang besar meskipun namanya tak banyak dikenal orang.

"Kemarin ada yang hitung analisisnya satu tahun bisa sampai sekitar Rp600 sampai 700 juta," katanya lagi.

Metodenya pun sama, kebanyakan memanfaatkan adsense untuk meraup pundi-pundi. Kalau sudah begini, pembaca harus cermat sebelum masuk ke dalam situs dan tidak terjebak ke dalam link yang provokatif.

(tyo/tyo)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER