Perusahaan Teknologi AS Bakal Advokasi Karyawan Imigran

Ervina Anggraini, CNN Indonesia | Rabu, 01/02/2017 01:42 WIB
Perusahaan teknologi AS memastikan akan memberikan jaminan dan pendampingan hukum terhadap karyawan yang terkena imbas kebijakan anti-imigran dan pengungsi. Perusahaan teknologi AS memastikan akan memberi pendampingan hukum bagi karyawannya terkait kebijakan terbaru Donald Trump. (Foto: REUTERS/Kate Munsch)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kebijakan anti-imigran dan pengungsi yang dikelurkan Presiden AS Donald Trump membuat empat petinggi raksasa teknologi mengeluarkan larangan terhadap karyawan mereka.

Bukan hanya itu, para petinggi perusahaan teknologi ini juga memberi perinagtan terhadap 134 juta orang yang hendak memasuki wilayah AS terhadap pemberlakuan kebijakan ini.

Dalam laporan yang dihimpun CNN, sedikitnya empat petinggi perusahaan teknologi memastikan akan memberikan jaminan dan pendampingan hukum terhadap karyawannya yang berpotensi masuk dalam daftar negara yang dilarang memasuki wilayah AS.


Google diketahui mengirimkan memo internal untuk semua karyawannya dan meminta siapapun yang memiliki visa dari salah satu dari tujuh negara yang masuk dalam 'daftar hitam; Trump untuk menunda rencana bepergian keluar negeri.

"Dihimbau untuk tidak bepergian keluar AS sampai larangan tersebut dicabut. Kebijakan pembatasan masuk AS saat ini hanya berlaku selama 90 hari kedepan, kemungkinan dapat diperpanjang dengan sedikit atau tanpa peringatan," tulis memo internal tersebut.

CEO Apple Tim Cook juga mengirimkan surat berisi respon terhadap kebijakan Trump kepada seluruh karyawannya. Cook memastikan perusahaan tidak mendukung kebijakan tersebut.

"Apple tidak akan ada tanpa imigran, kami berkembang dan berinovasi seperti yang sudah dilakukan," tulis Cook.

Dalam surel tersebut, Cook menyebut beberapa karyawannya di divisi HR, tim Legal dan Keamanan terkena imbas kebijakan Trump.

"Perusahaan akan melakukan apapun untuk mendukung mereka, Apple terbuka untuk semua orang dengan latar belakang apapun," imbuh Cook.

Sementara itu, CEO Microsoft Satya Nadela pada Sabtu (28/1) menunjukkan komitmen untuk memberikan bantuan dan perlindungan hukum terhadap 76 karyawannya dari negara yang masuk dalam daftar kebijakan Trump.

Seperti tiga raksasa teknologi lainnya, VP HR Amazon, Beth Galetti juga memberikan memo internal untuk meredam keresahan karyawan imigrannya setelah diberlakukannya kebijakan ini.

Galetti memastikan potensi implikasi dan menawarkan pendampingan hukum bagi karyawannya yang mungkin terkena dampak dari kebijakan Trump.

CEO Jack Dorsey mengakui pembatasan imigran masuk ke wilayah AS bisa membatasi lahirnya keberagaman inovasi.

"Kami mendapat keuntungan dari kedatangan imigran karena memicu keberagaan. Kami juga mendapatkan keuntngan karena melibatkan banyak orang dan melihat dari perspektif yang berbeda,' imbuh Dorsey. (evn/evn)