Twitter Campakkan Avatar Telur Demi Cegah Pelecehan

Bintoro Agung, CNN Indonesia | Senin, 03/04/2017 09:14 WIB
Twitter Campakkan Avatar Telur Demi Cegah Pelecehan Ilustrasi (Foto: REUTERS/Regis Duvignau/Illustration)
Jakarta, CNN Indonesia -- Twitter mengucapkan selamat tinggal kepada gambar telur yang menjadi desain avatar awal pengguna mereka. Gambar telur itu kini digantikan oleh figur siluet berwarna abu-abu.

Perubahan ini memang tergolong bukan perubahan signifikan dalam layanan mikroblog Twitter. Namun pada kenyataannya ada maksud tertentu yang ingin disampaikan oleh Twitter dari hilangnya gambar telur sebagai avatar.

Setidaknya ada dua alasan Twitter meninggalkan desain telur. Pertama adalah bagian dari rebranding merek. Twitter berniat mendorong penggunanya untuk lebih mengekspresikan diri mereka dengan mengunggah sebuah foto ketimbang mempertahankan avatar telur yang kerap dianggap lucu.


Alasan berikutnya yang tak kalah penting adalah keterkaitan akun beravatar telur dengan aksi pelecehan. Twitter sendiri mengakui ada kecenderungan ini di layanan mereka.

"Ini menciptakan asosiasi antara foto profil telur dan perilaku negatif yang tidak adil untuk orang yang masih baru dengan Twiter dan belum mengubah foto profil mereka," tulis Twitter dalam blog resminya pada Jumat (31/3).

Twitter mengklaim pemilihan gambar siluet kelabu bisa memunculkan kesan kosong di benak pengguna mereka. Dari kesan kosong itu, Twitter berharap pengguna bisa berbondong-bondong hijrah mempersonalisasi foto profil mereka.

Gambar telur dengan latar berwarna-warni sendiri sudah menjadi ciri khas Twitter sejak 2010 silam. Sebelum gambar telur jadi pilihan mereka, ada beberapa gambar lain sebagai avatar awal pengguna baru.

Belakangan Twitter memang disibukkan dengan konten berisi penghinaan dan kalimat-kalimat tak senonoh yang dilontarkan pengguna tak bertanggung jawab. Pengguna tersebut tak jarang memakai 'topeng' telur untuk menyembunyikan informasi mengenai mereka.

Avatar telur juga punya kaitan dengan akun bot. Akun ini dibuat bukan untuk digunakan dengan semestinya di platform Twitter, namun untuk menjadi 'pasukan' dan massa rekayasa tanpa indentitas belaka.