Salah satu pemain lokal yang turut dalam pameran tersebut, yaitu Fin Komodo Teknologi. Menempati area kecil berukuran sekira 4x4, produsen lokal asal Cimahi, Jawa Barat membawa serta keluaran terbarunya.
Mobil berukuran mini itu diberi nama Fin Komodo KD 250 X dan merupakan generasi penerus dari model sebelumnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau versi sebelumnya kan tidak ada, masih kosong," kata dia.
Foto: CNN Indonesia/Rayhand Purnama Karim JP |
Pada bagian mesin, mobil berkubikasi 250 cc empat stroke ini memiliki kapasitas tangki 20 liter serta bertransmisi CVT otomatis, hanya maju dan mundur. Untuk penggerak, di bagian roda belakang memakai sprocket.
Secara tampilan, memang mobil itu terkesan dikhususkan untuk dikendarai di alam terbuka. Apalagi, penggunakan ban tahu semaki menambah kekar Komodo.
Bagi Ibnu, kendaraannya itu dapat digunakan sebagai alat angkut masyarakat pedesaan. Ia mengklaim, mobil seharga Rp99 juta itu dapat mengangkut beban seberat 200 kg ditambah pengemudi dan penumpang.
"Ya pasti kuat dong, bisa ditambahin ama dua penumpang juga lagi," ungkapnya.
Tanpa Pemerintah
Walau berstatus kendaraan atau mobil nasional, Ibnu mengaku hingga saat ini tidak ada peran pemerintah untuk memajukan industri otomotif nasional, baik pemerintah daerah maupun pusat.
Sejak pertama berdiri dimulai dari desain hingga perakitan yang dilakukan di lokalisasinya, masih menggunakan biaya sendiri. "Ya belum ada mas dari pemerintah, ini semuanya sendiri," ujar dia.
Ia mengamini, jika memperoleh bantuan dari para pemangku kepentingan tentu kendaraan nasional buatan Komodo akan lebih cepat berkembang, ketimbang sekarang. Yang mana, perakitannya didukung oleh kurang lebih 40 Usaha Kecil Menengah (UKM).
"Ya pastinya akan lebih cepat dari sekarang ya (kalau mendapat bantuan dari pemerintah)," imbuhnya. (pit/pit)
Foto: CNN Indonesia/Rayhand Purnama Karim JP