RS Dharmais & Harapan Kita Bebas dari Sandera Ransomware
CNN Indonesia
Senin, 15 Mei 2017 10:51 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Rumah Sakit Dharmais dan Harapan Kita sudah beroperasi kembali setelah sebelumnya tersandera serangan siber ransomware WannaCry. Hal itu diungkapkan oleh Direktur Jenderal Aplikasi dan Informatika Samuel A. Pangerapan.
"Mereka sudah beroperasi lagi dengan backup system yang mereka miliki," kata Semuel kepada CNNIndonesia.com, Senin (15/5).
Backup data menjadi salah satu solusi mencegah komputer kena serangan WannaCry. Pakar keamanan TI, Alfons Tanujaya, menyebut backup data sebagai solusi wajib dan mendasar untuk menangkal serangan siber seperti WannaCry ini.
"Mitigasi yang diberikan di atas pada prinsipnya berguna seperti backup data penting yang seharusnya dilakukan secara disiplin sekalipun tidak ada ancaman ransomware," tulis Alfons.
Ransomware yang menyerang kedua rumah sakit itu, berjenis malicious software atau malware yang menyerang komputer korban dengan cara mengunci komputer atau mengenkripsi semua data yang ada sehingga tidak bisa diakses kembali.
Sebelumnya RS Dharmais telah berupaya menginstal ulang sistem untuk membuat komputer dan server kembali beroperasi. Mereka berharap proses tersebut cepat selesai karena rumah sakit beroperasi tanpa sistem TI.
Nyaris semua komputer di RS Dharmais terpengaruh. WannaCry mengunci semua data dan mengganggu sistem teknologi informasi yang menyimpan seluruh data kesehatan pasien juga catatan pembayaran rumah sakit.
Korban dari WannaCry dipaksa memberi tebusan uang untuk membebaskan dokumen-dokumen yang disandera menggunakan bitcoin.
"Ini sungguh kejam," ujar Presiden Direktur RS Dharmais Abdul Kadir kepada Reuters.
Dari pengamatan Alfons, saat ini serangan siber WannaCry sudah berangsur berkurang. Total perangkat yang terinfeksi saat ini tinggal 118 IP saja, dari total 222.784 IP di seluruh dunia.
"Mereka sudah beroperasi lagi dengan backup system yang mereka miliki," kata Semuel kepada CNNIndonesia.com, Senin (15/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ransomware yang menyerang kedua rumah sakit itu, berjenis malicious software atau malware yang menyerang komputer korban dengan cara mengunci komputer atau mengenkripsi semua data yang ada sehingga tidak bisa diakses kembali.
Nyaris semua komputer di RS Dharmais terpengaruh. WannaCry mengunci semua data dan mengganggu sistem teknologi informasi yang menyimpan seluruh data kesehatan pasien juga catatan pembayaran rumah sakit.
Korban dari WannaCry dipaksa memberi tebusan uang untuk membebaskan dokumen-dokumen yang disandera menggunakan bitcoin.
"Ini sungguh kejam," ujar Presiden Direktur RS Dharmais Abdul Kadir kepada Reuters.
Dari pengamatan Alfons, saat ini serangan siber WannaCry sudah berangsur berkurang. Total perangkat yang terinfeksi saat ini tinggal 118 IP saja, dari total 222.784 IP di seluruh dunia.