Alasan Zuckerberg menangis di podium adalah pertemuannya dengan seorang pelajar SMA yang ia temui belum lama ini. Pria yang akrab disapa Zuck itu mengetahui bahwa sang pelajar terancam tak bisa kuliah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Aku terpukul. Ada seorang anak yang punya setiap alasan untuk sinis.. (tapi) Dia tidak merasa sedih untuk dirinya. Dia punya tujuan yang lebih besar," kata Zuck seperti dilaporkan oleh CNBC.
Zuck melanjutkan pidatonya dengan menyinggung peran masyarakat yang punya kesempatan lebih baik dibanding sang pelajar untuk memajukan kesejahteraan umum.
"Kalau seorang pelajar SMA yang tidak tahu bakal seperti apa masa depannya bisa melakukan yang ia bisa untuk memajukan dunia, kita berutang kepada dunia melakukan yang kita bisa," imbuh Zuck.
Suami dari Priscilla Chan tersebut juga mengkritik peran negara yang justru membatasi masa depan seorang anak hanya karena status imigrasi.
"Dia tak yakin apakah negara yang ia anggap sebagai rumah, satu-satunya yang ia kenal, akan memupus impiannya untuk berkuliah."
Zuck menutup pidatonya dengan berapi-api, sangat emosional, dan diikuti oleh tepuk tangan peserta yang berada di bawah siraman hujan.
Ia menolak menyebut nama sang pelajar dalam pidatonya. Ia beralasan menyebut nama akan membahayakan sang pelajar. Nasib yang dialami sang pelajar sendiri tak lepas dari kebijakan pemerintah Amerika Serikat di bawah Donald Trump yang memperketat izin tinggal imigran. Mereka yang tak memenuhi syarat tinggal dari pemerintah diancam akan dideportasi.
Zuckerberg menjadi pemberi pidato kelulusan Harvard termuda sepanjang sejarah di usianya yang baru menginjak 33 tahun. Zuck mendapat keistimewaan dari Harvard menyandang gelar sarjana dan memberikan pidato kelulusan meski berstatus droput dari kampus 13 tahun lalu.