Kini, kekhawatiran itu berada di depan mata. Pertumbuhan Snapchat telah menurun secara drastis selama dua bulan terakhir karena Instagram terus mendapatkan kepopuleran di antara pengguna.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Analis Anthony DiClemente dari SensorTower menyebut bahwa "tekanan kompetitif mungkin akan semakin ketat untuk Snap, menantangnya untuk menarik dan mempertahankan pengguna baru".
"Kami terkejut bahwa sebuah perusahaan publik yang baru, yang seharusnya masih pada awal siklus pertumbuhannya, harus melihat hasil jangka pendek yang dipengaruhi oleh tren pasar iklan musiman yang lebih luas," tulis DiClemente.
Saham Snap (SNAP, -3.63 persen) dibuka dengan harga US$27 saat pertama kali menjadi publik. Dia memberikan pasar harga US$18miliar namun terus turun sejak saat itu. Harga sahamnya sudah turun 6 persen pada Rabu (7/6).
Kekhawatiran analis berakar dari Instagram yang melahap pengguna Snapchat sehingga membuat para pengiklan memalingkan muka dari Snap. Instagram sendiri telah menambahkan fitur Stories pada awal 2017 yang sejatinya memang diadopsi dari Snapchat.
Snap dan pembelanya berpendapat bahwa fungsi Snapchat berbeda dari Instagram karena mereka lebih fokus untuk berbagi antar individu. Sementara itu, Instagram memiliki lebih banyak model siaran publik, di mana pengguna melacak jumlah likes dan komentar yang mereka dapatkan.
Menurut survei yang baru-baru ini dilakukan App Annie, perusahaan analisis aplikasi, sekitar 35 persen pengguna harian Snapchat di AS tidak berada di Facebook pada hari yang sama saat mereka menggunakan aplikasi tersebut. Selain itu, lebih dari 45 persen dari mereka tidak juga mengakses Instagram pada hari yang sama mereka menggunakan Snapchat.
Bisa jadi, pengguna Snapchat memang bukanlah orang menyukai Instagram dan Facebook pada waktu yang sama. Namun yang sepertinya, para pengiklan lebih menyukai fitur-fitur di kedua platform ketimbang Snapchat.