Indonesia Bukan Satu-satunya Negara yang Blokir Telegram

Ervina Anggraini , CNN Indonesia | Senin, 17/07/2017 17:14 WIB
Indonesia Bukan Satu-satunya Negara yang Blokir Telegram CEO Pavel Durov menegaskan selain di Indonesia Telegram juga diblokir di Saudi Arabia, Iran, Oman, dan China. (Foto: REUTERS/Albert Gea)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Komunikasi dan Informatika memblokir akses Telegram sejak Jumat (14/7). Ternyata, Indonesia bukan satu-satunya negara yang memblokir layanan pesan instan tersebut.

Sejumlah negara diketahui juga memblokir akses komunikasi melalui layanan Telegram.

Ada negara yang memblokir lantaran menganggap Telegram tidak mau memenuhi permintaan pemerintah, namun ada juga yang hanya memblokir fitur tertentu dari layanan tersebut.

Bulan lalu, pemerintah Rusia mengancam akan memblokir Telegram jika mereka menolak mengungkapkan informasi mengenai perusahaan-perusahaan yang ada di balik layar layanan tersebut. Layanan Federal untuk Pengawasan Komunikasi, Teknologi Informasi dan Media Massa Rusia, Roskomnadzoe seperti dilaporkan Reuters menuduh Telegram telah melanggar aturan yang diminta pemerintah.

Sementara itu, dalam tulisannya di blog Telegram, CEO Pavel Durov menjelaskan ada beberapa negara yang juga memblokir layanannya.

Sekitar 40 juta penggunanya di Iran sejak April lalu tak lagi bisa menggunakan layanan tersebut lantaran pengadilan memutuskan untuk memblokir fitur panggilan suara Telegram tanpa alasan jelas. Baik operator telekomunikasi maupun penyedia jaringan internet tidak bisa mengakses Telegram. Ditengarai kondisi politik dan pergerakan yang dirancang melalui layanan Telegram menjadi alasan pemerintah memblokir fitur tersebut.

Sedangkan di Arab Saudi, China dan Oman layanan Telegram sama sekali tidak bisa diakses. Durov mengaku tidak tahu alasan dibalik pembatasan Telegram di sana.

Di China, sejak 2015 lalu, Telegram diklaim kerap digunakan oleh kelompok radikal yang memprotes kebijakan pemerintah. Atas alasan itu pemerintah China kemudian memilih memblokir akses Telegram.

"Layanan lain seperti WhatsApp tidak diblokir di China, Arab Saudi, Iran, atau negara lain yang memiliki sejarah penyensoran. Hal itu karena mereka (perusahaan pesan instan) sangat ingin menjual kepercayaan pengguna untuk meningkatkan pangsa pasar," ungkap Durov dalam tulisannya.

Ia menegaskan sejauh ini Telegram memiliki historis bermasalah dengan regulator di beberapa negara lantaran lebih memilih menjaga privasi penggunanya.

"Kami tidak pernah ada kesepakatan dengan pemerintah untuk membuka data pengguna, karena itu privasi. Hingga saat ini kami tidak membuka data pengguna ke pihak ketiga manapun," klaim Durov.
Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Blokir Telegram Bikin Geram