Pemanasan Global Buat Poros Bumi Tak Teratur dan Menyimpang

Hani Nur Fajrina, CNN Indonesia | Senin, 11/04/2016 10:47 WIB
Pemanasan Global Buat Poros Bumi Tak Teratur dan Menyimpang Salah satu penyebab global warming adalah mencairnya es di kutub air (REUTERS/Mariana Bazo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Fenomena pemanasan global memang memberi banyak dampak krusial bagi kehidupan Bumi. Selain menyebabkan anomali alam, pemanasan global nyatanya merusak poros Bumi dan kalkulasi GPS.

Selama ini Bumi berputar pada porosnya dengan teratur sehingga makhluk hidup bisa merasakan siang dan malam. Namun akibat pemanasan global ini, poros Bumi mengalami gangguan.

Dengan kata lain, pemanasan global membuat Bumi berotasi dengan terhuyung-huyung, membuatnya tidak teratur pada porosnya.


Studi dari NASA memaparkan, mencairnya es menyebabkan penyimpangan dari gerakan kutub. Kemudian para ilmuwan pun memprediksi bahwa pergeseran gerak kutub bisa turut berpotensi mengganggu pengamatan astronomi melalui komunikasi satelit hingga kalkulasi pemetaan GPS.

Pergerakan kutub berdasarkan gerak rotasi Bumi telah diobservasi sejak 130 tahun. Selama beberapa dekade, kutub utara secara lambat bergerak menyimpang ke arah Kanada, namun kini beralih ke arah Greenwich Meridian.

"Sejak sekitar tahun 2000, memang ada peralihan arah yang dramatis," ungkap seorang peneliti Jet Propulsion Laboratory NASA, Surendra Adhikari. "Ini semua tanpa diragukan lagi, memang karena perubahan iklim. Semuanya berhubungan dengan laposan es, terutama di Greenland."

Lapisan es diketahui telah mencair dengan sangat cepat sebanyak 278 gigaton per tahun sejak 2000 karena suhu yang memanas.

Mengutip situs Climate Central, Antartika telah kehilangan 92 gigaton es per tahun sejak saat itu, sedangkan bongkahan es dari Alaska sampai Patagonia turut mencair dan berakhir ke laut, sehingga menambah bobot air di Bumi.

Di dalam jurnal Science Advances, Adhikari dan koleganya Erik Ivins menunjukan bahwa 66 persen es mencair berasal dari perubahan gerakan rotasi poros Bumi.

Selain rotasi poros Bumi yang kacau, mencairnya es juga berasal dari kekeringan dan hujan lebat yang terjadi di wilayah tertentu di seluruh dunia.

Adhikatu mengatakan, penelitian ini bisa digunakan untuk membantu para ilmuwan menganalisis perubahan gerakan kutub Bumi dan pola curah hujan.

Yang jelas, ia memprediksi es akan terus mencair, dan gerakan kutub juga akan berubah secara bergulir.

"Yang bisa saya sampaikan, kita mengantisipasi kehilangan besar lapisan es dari Antartika Barat dan Greenland, jangan sampai arah kutub kembali lagi menuju Kanada," kata Adhikari.

Sebelumnya pada Januari kemarin, NASA telah memprediksikan bahwa permukaan air laut naik satu meter secara global dalam hitungan beberapa tahun ke depan.
Mengutip situs CNN, rotasi Bumi melambat sekitar 1 milidetik per hari. Hal ini dapat menyebabkan hari di Bumi menjadi semakin lambat.

Profesor dari University of Alberta, Mathieu Dumberry mengklaim bahwa satu hari di Bumi nantinya bisa bertambah hingga 1,7 milidetik dalam waktu satu abad ini. Meski tidak terlalu dramatis, melambatnya waktu diyakini akan terus meningkat dari tahun ke tahun. (tyo)